Bima.. Kabupaten dan Kota, Sejak Dulu Hingga Kini..


asi-mbojoANDA ingat kisah Nabi Yakub yang buta? Nabi itu, seperti dilukiskan Rumi, cuma bisa mencium aroma wangi baju Yusuf untuk menyembuhkan kedua matanya. BIMA dalam waktu yang lama, seperti Nabi Yakub yang buta. Hanya bisa menunggu dalam keadaan tidak berdaya. Para ulama sebagai tangki-tangki moral kian langka. Akibatnya, di tengah banyak orang menyerbu berbuat baik (amar ma’ruf), makin langka orang yang mencegah kemungkaran (nahi mungkar). Banyak di antara kita yang kian permisif pada nilai setempat, penghormatan pada orang tua merosot, pindah agama tidak tabu lagi, daya saing kaum muda melorot akibat rendahnya mutu pendidikan serta penggunaan narkoba makin meluas.

Dalam kisahnya, Nabi Yakub bisa bersatu dengan Yusuf. Keduanya mampu mengembalikan pamor kaumnya. Mungkinkah Bima seperti Nabi Yakub, mendapatkan kembali spiritnya? Agar bisa membangun kekuatanya, kita harus menemukan daya hidup, semacam Yusuf bagi Nabi Yakub. Memang, harus mendaki jalan yang sulit untuk membeli masa depan. Kuncinya terletak pada kemampuan kita untuk memegang teguh tradisi Islam.

MEM-BIMA-KAN Bima berarti kita akan memasuki ruang tradisi yang beribu-ribu jumlahnya. Tak pelak lagi, kemampuan kita untuk mencari identitas, mencari kemanusiaan berarti kita akan menampilkan sensasi yang mempesona. Kita bakal melihat Bima yang benar-benar Bima. Kekuatan tradisi telah dibuktikan oleh Jepang. Dengan berpegang pada tradisi bushido yang berbasis pada Agama Budha, Jepang menjelma menjadi adidaya ekonomi di dunia. Tidak demikian dengan Turki. Semenjak negara itu menanggalkan tradisi Islam untuk memasuki atmosfir sekuler, negara tersebut justru terjerambab dalam ketidakberdayaan.

Saat kita melihat kedipan cahaya dalam usaha memantapkan tradisi kita untuk kembali kepada tradisi Islam. Seperti kata resi manajemen Peter Drucker, “Cara terbaik meramalkan masa depan adalah menciptakannya.” Tentu untuk menciptakan masa depan tidaklah mudah. Kekuatan westernisasi (pembaratan) di kutub yang lain amat kuat seperti perjudian, pelacuran serta minuman keras dan perilaku dekaden lain. 

(Dikutip dari Muslimin Hamzah dalam Ensiklopedia BIMA, 2004)

12 Tanggapan to “Bima.. Kabupaten dan Kota, Sejak Dulu Hingga Kini..”

  1. BIMA tuh kabupaten Nusa Tenggara Timur kan… Yang terkenal dengan susu kuda liarnya…???

  2. Bima adalah Kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Sumbawa di Propinsi Nusa Tenggara Barat (bukan Nusa Tenggara Timur). Yap.. Bima terkenal dengan Susu Kuda Liarnya.. Kapan-kapan maen ke Bima deh..

    Salam,
    OmpuNdaru

  3. Saya setuju kalau bima seperti kisah Nabi Yakub, Tapi Bima bukanlah nabi Yakub, Pendidikan Amar Ma’ruf nahir Mungkar di bima lebih kurang cukup baik tapi pemberi contoh yang belum bagus.

  4. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.. Saya juga lebih setuju lagi kalo Bima bukanlah Nabi yakub. Tetapi mungkin kita tidak salah jika mengibaratkan, bukan menyamakan. Ah.. Hanya sekedar kata kiasan, tergantung kita masing-masing bagaimana persepsi kita terhadap Bima.
    Mungkin kita juga lebih perlu lagi untuk fokus pada “pemberi contoh” tersebut.

    Salam,
    OmpuNdaru

  5. hanafi el-Sila Says:

    Bima, kalau saya lebih suka dan akrab dengan sebutan Mbojo, itulah nama yang mengandung sejuta makna didalamnya,,,!!!
    Ketika kita berbicara Mbojo, dan berobsesi menyamakannya dengan nabi ya’kub, maka sebenarnya mbojo adalah seoarang nabi yang telah tersesat…karena tidak mampu mempertahankan dan menghadapi ujian dari kaum musyrikin dan orientalis.. Banyak hal yang dia lupakan dari identitasnya, yang utama adalah nggusu waru. Mbojo telah melupakan budaya dan adatnya demi mempertahankan budaya asing dan beragumen itulah modernisasi juga budaya kekinian., perubahan adalah sebuah kenicayaan..namun satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah dan merupakan satu solusi bagi kita yaitu mari kita mmepelajari perubahan itu semua dan lebih memahami kekayaan daerah kita dan menciptakan kebijaksanaan lokal bagi daerah kita tercinta. By. El-sila

  6. Ompu setuju Bung Hanafi.. Terima kasih..

  7. Assalamu’alaikum wr wb.

    Senang bisa mampir di blog ini, karena kebetulan saya suka sekali mencermati budaya Dou Mbojo.
    Semoga OmpuNdaru, tetap commit u/ selalu mengangkat mbojo. Trims

    salam kenal, Wassalam

  8. Wassalamualaikum Wr.Wb.

    Terima kasih banyak Om Salahuddin, udah mampir dan berkomentar di blog Ompu yang sederhana ini. Insya Allah, semoga dengan hal kecil ini kita paling tidak bisa mewakili Dana Mbojo.

    Salam,
    OmpuNdaru

  9. namuru sarei abinz ncuhi sangia Says:

    saya kira memperdebatkan nama adalah sesuatu yang sia-sia, sakarang yang perlu kita lakuakan adalah bagaiman kita mengaktualisasikan diri kita sesuai dengan warisan luhur budaya kita tanpa harus menutup mata dengan pergekembangan dan kemajauan yang ada disekitar kita, karena ciri bangsa yang besar bagi saya adalah bangsa yang selalu meu menjaga dan lestarikan warisan adiluhung dan bersikap akomodatif terhadap kemajauan perkembangan yang baik sekarang….ya bima dan mbojo adalah dua nama yang di dalamnya mengandung nilai-nilai historis yang perlu di kaji dan di kembangkan baik yang berkaitan dengan filologi maupun histografinya, sehingga bisa bermanfaat bagi generasi selanjutnya dan itu semua adalah tugas kita semua orang bima atau mbojo, generasi tua sebagai sumbernya dan generasi mudanya tonggak estafet perjuangannya.thanks Abinz Ncuhi sangia

  10. adi marwan Says:

    salam D’ Bampi…
    saya sangat tersudut,
    lalu memahami ketika para tetuah mengatakan
    “hampa namimpa dou Mbojo”

    beliau berkata demikian karena beliau tiada lagi melihat dan juga merasakan aura dou mbojo telah berangsur terselimut oleh peradaban luar yang mempengaruhi budaya regenerasinya.

    Dou Mbojo” ketika saya berada di rantau, seorang pengajar saya terkejut ketika saya mengatakan berasal dari Bima,
    katanya, “dou mbojo”..?
    Iya saya dou Mbojo..

    orang2 yang fanatik, ramah, murah senyum dan perasa.

    begitu yang iya katakan ketika itu..

    namun sekarang, yang memiliki peradaban sebagai dou mbojo seakan tak saya jumpai melainkan dalam jumlah yang sedikit.

    namun saya pribadi sangat bangga dengan nilai luhur yang tersirat dalam berbagai peninggalan kebudayaannya.

    salam..

  11. bima tanah kelahiranku,, saya bangga jadi orang bima, karna orang bima terkenal dengan sopan santun, dan agamanya kuat, serta tajwid al-qur’annya bagus,,,hmmm, semoga aja kota bima menjadi kota yang religius untuk selamax dan jadi teladan bagi kota lain,,Amiin..

    ohx salam kenal untuk Ompundaru di manapun berada..
    semoga sukses selalu,,

  12. Bima adalah Kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Sumbawa di Propinsi Nusa Tenggara Barat (bukan Nusa Tenggara Timur). Yap.. Bima terkenal dengan Susu Kuda Liarnya dan madu Kapan-kapan maen ke Bima deh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: