Bima Sebagai Identitas


img_5038BIMA telah memberi sumber-sumber daya batiniah – kepada orang yang lahir dan pernah minum air daerah ini – untuk menghadapi kehidupan dengan lebih sukses. Bima mendekatkan penghuninya pada kehidupan yang esoteris bahkan transeden. Tradisi Islam yang kuat menjadi mesin pendorong pada orang Bima untuk menjadi orang yang tangguh, ulet dan punya karakter. Nama Bima, memang dinilai sejumlah orang, punya legalitas dengan Sang Bima dalam pewayangan. Ada anggapan bahwa “tokoh” bertubuh kekar dalam keluarga Pandawa inilah pendiri Kerajaan Bima. Sensasi seperti ini telah berkembang berabad-abad. Hampir semua kaum terpelajar Bima selalu memberi penjelasan yang berbau mitos mengenai proses pendirian Bima. Akibatnya terjadi salah paham yang berkepanjangan mengenai daerah ini. Celakanya lagi, kita terlalu melihat Sang Bima sebagai figur Hindu. Kita tidak pernah melihat Bima dalam kacamata Islam sebagai pribadi yang mempunyai kesempurnaan hidup (syariat, tarekat, hakikat dan makrifat). Dia tidak pernah menyombongkan diri. Dengan posisi serba salah seperti itu, ketika mau melihat identitas diri, kitapun menjadi gamang. Dalam kultur Jawa, wayang memang merupakan salah satu identitas mereka. Maka, lumrah kalau Orang Jawa gemar mengidentikkan diri dengan tokoh-tokoh wayang tertentu. Orang Jawa bahkan banyak memberi nama anak-anak mereka dengan tokoh wayang seperti Bima, Permadi dan Wibisana. Untuk anak perempuan, nama-nama yang digandrungi adalah Utari, Pertiwi dan Larasati. Masyarakat Bima bukan masyarakat Jawa. Kita tidak bisa langsung mengidentikkan diri dengan tokoh-tokoh pewayangan. Kultur Bima tidak dekat dengan dunia pewayangan. Orang Bima bahkan tidak tahu menahu wayang. Nama Bima hanya dicantelkan saja dalam masyarakat kita menjadi nama daerah ini tapi bukan sebagai identitas. Lantas bagaimana kita menemukan identitas kita? Bima sebenarnya tidak harus dilihat secara jasmaniah karena dita tokoh rohaniah. Maka dalam wacana ini, nama Bima bukanlah kata benda (noun) melainkan lebih tepat disebut kata sifat (adjective). Sama halnya dengan istilah “Melayu”, seperti kata sejarawan Taufik Abdullah, juga bukan kata benda tapi sebuah kata sifat, sebuah konsep sejarah. Jadi Bima adalah citra atau gambaran manusia Bima yang memiliki sifat-sifat utama dengan landasan nilai kreativitas, etos kerja, keunggulan untuk berkompetisi, hingga nilai kebaikan umum kita seperti menghargai proses, menghargai dan menghormati orang tua, jantan, terbuka, ulet, jujur bahkan heroistik.

WATAK ISLAM. Orang Bima punya watak religius yang khas. Sejarawan Belanda Dr. Peter Carey (1986) memuji daerah ini sebagai kesultanan di Indonesia Timur yang tersohor karena ketaatannya pada Agama Islam. Pujian itu tidak berlebihan. Banyak ulama terkemuka dari Bima. Di kalangan Ashhab Al-Jawiyyin atau saudara kita orang Jawi – demikian sumber arab – di Mekkah sekitar abad ke-18, Syekh Abdulgani Bima telah menjadi guru besar di madrasah Haramayn. Salah satu muridnya adalah KH. Hasyim Asy’ary, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Islam demikian melekat, antara lain karena peranan kesultanan yang begitu kuat, yang menjadikan Islam sebagai agama raja dan kerajaan. Seluruh elemen kekuasaan didayagunakan untuk kepentingan Islam. Raja misalnya menetapkan aturan untuk membangun Masjid Jami di tiap kecamatan. Dananya dari hasil menggarap tanah negara baik itu Dana Pajakai dan Dana Ngaji. Sultan juga menunjuk pemimpin agama di tiap kecamatan yakni Lebe Na’e. Yang mengesankan, seperti cara Sultan Muhammad Salahuddin. Beliau bukan sekedar membangun rumah ibadah tetapi meningkatkan fungsi masjid, mushalla, langgar dan surau menjadi tampat pengajian Al-Qur’an bagi anak-anak dan tempat pengkajian ilmu agama bagi orang dewasa. Walhasil mesjid menjadi pusat segala aktivitas sosial. Menyadari pentingnya pendidikan, sultan bahkan mengirim para pelajar terbaik untuk menuntut ilmu ke luar negeri seperti Mekkah dan negara Arab lain. Mereka diberi beasiswa dengan syarat harus kembali mengabdi untuk Bima setelah sukses menuntut ilmu. Kepada para pejabat, sultan menekankan untuk berperilaku Islami. Beliau mengharuskan para pejabat memiliki sifat-sifat utama seperti taqwallah (taqwa kepada Allah), sidiq (berkata benar), amanah (jujur), tablig (menyampaikan amanat) serta pintar. Faktor lain yang membuat Islam bisa menjadi ideologi terkemuka di daerah ini adalah coraknya yang sufistik. Islam dengan corak ini begitu memikat karena sangat menekankan kepada ilmu kesempurnaan hidup. Orang Bima menyebutnya Ngaji Tua. Penekanannya adalah pada jiwa dan qalbu (tarikat, Hakikat dan makhrifat) dan tentu saja syariat. Para sufi kelana seperti Datu Di Bandang dan Di Tiro di abad ke-17 amat berjasa menancapkan Islam sufistik di Bima. Para sufi ini jualah yang mengislamkan Gowa-Makasar dan kerajaan-kerajaan di Sulawesi. Tak mengherankan kalau kemudian orang Bima menyukai Sulawesi untuk menimba ilmu agama sembari berdagang. Ada rantai spiritual Bima dengan Sulawesi karena praktek Tarekat Saman atau Khalwatiyah sangat dominan di sana. Itulah tarekat yang digandrungi banyak orang Bima dan mendasari Ngaji Tua atau Ilmu Bathin. Para penuntut ilmu serta mukimin asal Bima di Mekkah juga ikut mendorong tumbuhnya Islam Sufistik ini. Sepulang dari Mekkah, mereka menjadi guru-guru yang sangat dikagumi bahkan diyakini memiliki karomah. Salah satu syekh yang punya kesalehan mistis dan sangat legendaris di kalangan masyarakat Bima dan Dompu adalah Syekh Mahdali atau Sehe Boe. Seperti kelas-kelas Islam di Jawa, di Bima pun ada kaum abangan dan priyayi, disamping kaum santri. Dalam praktek tarekat – pada orang-orang tertentu – ajaran tarekat dibaurkan dengan tradisi yang bersifat magis-mistis untuk mendapatkan tenaga bathin atau kesaktian. Dalam perkembangannya, terutama setelah bubarnya kesultanan, ulama-ulama tradisional lambat laun tidak ada lagi. Bima pun seperti mengalami rasa kantuk yang luar biasa. Watak Islam pelan-pelan pudar. Daerah ini menjadi tak berbeda dengan daerah lain di Indonesia, perilaku dekaden mulai muncul seperti pelacuran, minuman keras, narkoba serta judi. Namun sekarang kaki langit Islam di Bima kembali bercahaya. Seperti ada secercah cahaya di ufuk, begitulah kira-kira suasananya ketika muncul generasi baru yang lebih saleh. Sebut saja H. Ramli Ahmad (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Husainy), H. Zainul Arifin (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhwanuddin) serta KH. Abdurrahim Haris, pengasuh pondok pesantren di Lela, Kota Bima. Mereka adalah generasi Bima baru, yang bisa menjadi tangki moral, ditengah suasana kekeringan spiritual sekarang. Kita berharap watak Islam daerah kita akan hadir dengan performa yang lebih tangguh.

MANUSIA BIMA. Penulis Badrul Munir asal Sumbawa memuji orang Bima itu ulet, tahan banting serta memiliki semangat kebersamaan yang kuat. Makanya dia katakan, Bima tidak perlu punya tambang emas karena sesungguhnya manusia setempat dengan segala keunggulannya itu adalah tambang emas yang sebenarnya. Dia adalah sumberdaya yang luar biasa, yang tak ternilai harganya. HL. Anggawa Nuraksi, seorang tokoh dari Lombok bilang, daya tahan orang Bima dalam situasi sulit tiada duanya. Mamiq mengemukakan contoh kecil seputar pengalamannya menyekolahkan anak ke Malang, Jawa Timur. Anak-anaknya sebelum merantau ke daerah orang terlebih dahulu “menggertak” orang tuanya, “Pak, pokoknya harus ada motor, harus punya uang saku sekian per bulan, harus punya HP, harus punya tempat tidur bagus.” Dan banyak lagi “harus” lainnya. Ketika suatu waktu ke Malang, Mamiq hampir tidak percaya menyaksikan sekelompok mahasiswa kere, terdiri dari empat hingga lima orang dalam satu kamar. Mereka bisa hidup hanya dengan makan sekali sehari. Mereka tinggal berkerumun di kamar kumuh, tanpa alas tidur kecuali lantai semen. Tentu saja kamar kos itu tidak punya perabot. Tragisnya lagi mereka hanya punya satu sarung yang dipakai bergantian. Kalau merokok, cukup satu batang, yang dihisap bergantian. Pujian serta kenyataan di atas ada benarnya, walaupun tidak semua demikian. Namun daya tahan yang demikian – ibarat parasit yang bisa hidup di atas batu cadas – lahir dari sebuah proses. Dasarnya adalah ideologi Islam yang melekat di Bima. Itu artinya peranan pendidikan [agama] sangat kuat dibalik sikap-sikap positif seperti itu. Kita tahu, agama mengajarkan untuk bekerja keras, jujur dan hidup sederhana dan jangan berkeluh kesah. Dan itu menjadi anutan orang-orang Bima terdahulu. Nilai-nilai itulah yang ditanamkan secara turun-temurun pada anak cucu. Ketika LB. Moerdani menjadi panglima, terheran-heran, mengapa beberapa anak Bima mengacau di Jakarta? Seorang tokoh Bima (Mbojo), Azis Parady, bilang, “Itu sebagai wujud sikap jujur mereka. Dari kampung diajarkan supaya jujur. Ketika mereka melihat banyak kebohongan di sekelilingnya, merekapun melawan.” Sepintas sikap itu tampak bodoh tapi mencerminkan kekuatan probadi anak-anak tersebut. Tetntu peranan pendidikan umum juga sangat kuat memberi perubahan. Belanda misalnya memilih Bima sebagai tempat mendirikan Holland Inlandsche School (HIS) di Raba tahun 1921. Waktu itu sekolah serupa hanya ada di Bali dan Flores. “Mengapa Belanda memilih Raba? Tentu mereka melihat keunggulan orang Bima.” ujar Dr. Yusuf Merukh, pemilik tambang emas Newmont di Sumbawa Barat. Berselang 10 tahun kemudian (1931), Sultan Muhammad Salahuddin mendirikan Sekolah Islam Darul Tarbiyah, juga di Rana. Sejalan dengan perkembangan zaman, muncul generasi baru yang lebih santai bahkan lembek. Mereka biasanya cepat puas, tidak menghargai proses (ncao wau) dan suka menempuh jalan pintas. Sikap menempuh jalan pintas ini, seperti kata budayawan Mochtar Lubis, menjadi penyakit umum orang Melayu khususnya Indonesia. Bayangkan satu lembaga negara yang menerima taruna tiap tahun, bisa didominasi oleh orang Bima. Ternyata hanya orang Bima sanggup menyogok hingga Rp. 75 juta bahkan lebih, asal bisa lulus. Padahal pasaran sogok, awalnya sekitar Rp. 30 – 40 juta. Kita tahu, orang Bima terdahulu sukses setelah melewati masa prihatin yang luar biasa. Prof. Dr. Afan Gaffar, Harun Al Rasyid, Prof. Dr. Brigjen Farouk Muhammad, dan lainnya ketika menuntut ilmu ke Jawa atau Jakarta, cuma menumpang pada rumah saudara. Mereka hidup prihatin. Mereka tak pernah mengeluh. Akhirnya mereka sukses. Rahasianya adalah mereka bekerja keras. Benar seperti kata John C. Maxwell, ‘tidak ada solusi ajaib untuk sukses.” Contoh sukses itu juga bisa kita lihat pada pedagang-pedagang Bima di era 70-an seperti H. Saleh Fadjar, H. Mubin Ibrahim, H. Yasin Harapan dan lainnya. Mereka mulai dari nol, sebagai pedagang pengumpul bahkan palele. Mereka terus menata diri, hidup prihatin dan tidak boros. Akhirnya mereka menjadi pedagang hasil bumi yang berhasil. Nyatanya bahwa manusia Bima Baru tidak lagi tangguh bahkan tidak punya fighting spirit yang hebat. Untuk mencetak manusia Bima yang tangguh, orang Bima harus kembali berpegang pada tradisi Islam melalui pendidikan. Orang Bima harus proaktif. Kata pepatah lama, “Nabi Nuh tidak menunggu kapalnya datang, ia bangun sendiri kapalnya itu.” Ingat!! Sukses kebudayaan besar bahkan peradaban agung di dunia selalu didahului oleh keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM)-nya. 

LINTASAN SEJARAH. “Sejarah Bima tidak langsung sampai ke masa sejarah yang benar. Bidangnya terbatas pada masa dongeng dan dicampurkan secara hebat tradisi-tradisi yang berasal dari berbagai zaman dan beraneka sumber.” Begitu kata sejarawan Belanda Zollinger. Dalam rumusan Bo, daerah ini pernah melewati satu zaman yang dipimpin para tetua, kepala desa yang diberi gelar “Ncuhi”. Inilah zaman prakerajaan. Tidak jelas benar kapan zaman ini karena diliputi mitos. Lebih dari itu, pengelompokkan ncuhi sangat berbau Jawa sehingga kalau pembagian kekuasaan tradisional versi ini dikatakan pernah berkembang di Bima, tampaknya sangat mengada-ada. Betapapun sejarah masa lampau Bima amat kabur tapi seperti kata Rouffaer, dari peninggalan agama Syiwa seperti Wadu Pa’a (batu pahat), nyatalah bahwa orang-orang Jawa telah datang ke Bima sejak pendirian Majapahit. Kerajaan Bima berdiri setelah para Ncuhi “sepakat” membentuk federasi. Bima atau Mbojo menjadi pusat kerajaan. Lahirlah istilah Rasanae atau Negeri Besar. Wilayah ini, semula dipimpin Ncuhi Dara. Lawan kata Rasanae adalah Rasatoi atau Negeri Kecil yakni sebutan untuk wilayah di luar Bima atau daerah pedalaman. Ada anggapan, jika mengacu kepada umur situs Wadu Pa’a yang bercorak Budha-Syiwa, kerajaan Bima berdiri tahun 709 Masehi. Pendirinya – menurut anggapan para ahli sejarah – adalah Sang Bima. Konon Bima – sekitar abad ke-16 – pernah menjadi kerajaan yang makmur. Ini terlihat dari gambaran pengelana Portugis Tome Pires yang menyebut Bima kaya beras, ikan dan kain tenunan. Daerah ini amat strategis karena berada di jalur perdagangan Nusantara. Saat itu Bima dipimpin oleh Raja Manggampo Donggo. Portugis mendengar nama Bima. Mereka datang ke negeri ini. Saat itu Bima dipimpin oleh Raja Sarise. Bagi Kerajaan Gowa-Makasar, kehadiran Portugis tentu akan membawa banyak membawa hambatan. untuk itu Gowa membuat perjanjian persahabatan dengan Bima yakni sepakat menerima Islam dan tidak melakukan perdagangan dengan Portugis. Pada abad XV, Bima menjadi kerajaan terpandang. Tureli Nggampo Bilmana bahkan memperluas wilayah Bima dengan menaklukka Sumba, Manggarai, Sabu, Ende, Larantuka dan Komodo hingga Kepulauan Alor. Di daerah-daerah itu diberlakukan adat Kerajaan Bima. Mereka pun diwajibkan menyerahkan upeti berupa barang atau budak. Di abad inilah Islam masuk Bima. Pembawa Islam adalah Sunan Prapen dari Gresik. Zollonger menyimpulkan agama Islam masuk Bima tahun 1450 atau 1540. Namun Islam menjadi agama raja dan kerajaan tahun 1620, setelah Raja La Kai yang kelak mengganti nama menjadi Abdul Kahir menyatakan diri Islam. Para mubalig Gowa-Makasar mendarat di Sape dan mendirikan masjid pertama di Kalodu. Di masa Raja Ma Ntau Asi Sawo, kapal dagang Belanda terdampar di Bima. Kontak antar kedua pihakpun terjalin. Ujungnya adalah perjanjian persahabatan Raja Bima dengan orang Belanda untuk tidak saling bermusuhan. Itulah perjanjian pertama kerajaan Bima dengan bangsa asing.  Tak lama Portugis datang. Belanda dan Portugis lalu bentrok. Setelah insiden tersebut menyusul kapal berbendera VOC yang dipimpin oleh Steven van de Hagnen tahun 1605. Tahun 1624, pasukan ekspedisi Belanda datang di bawah pimpinan Komandan Roos. Dia menduduki Kerajaan Bima dengan dalih Bima membantu Kerajaan Gowa melawan Kompeni. Belanda berhasil mengikat Kerajaan Bima dengan berbagai perjanjian, seperti Perjanjian Rotterdam I (1669) yang ditandatangani oleh Tureli Nggampo Abdul Rahim dengan Laksaman Johan Truitman. Isi perjanjian adalah Bima bersedia melepaskan persekutuan dengan Kerajaan Gowa. Perjanjian terus diperbarui tahun 1908. Dengan perjanjian ini Bima ada dalam genggaman Belanda. Perjanjian Pamungkas tersebut bahkan dimasukkan dalam map dari kulit. Makanya disebut Surat Kulit. Isinya, Kerajaan Bima menjadi bagian Hindia Belanda. Belanda sengaja memasukkan naskah dalam map kulit, sebagai isyarat bahwa Kerajaan Bima tinggal kulitnya saja. Penderitaan rakyat akibat tindakan penjajah, melahirkan perang rakyat (1908-1909). Salah satu perang yang dikobarkan oleh rakyat Dena mengibarkan perang terhadap Belanda. Tahun 1910, Haji Abdurrahman Abu Sara dkk melawan pasukan Belanda pimpinan Overste G.T. King. Perlawanan dapat dipatahkan. Belum padam Perang Dena, rakyat Donggo juga mengangkat senjata, dipimpin Gelarang Kala Ntehi. Para pemimpin Kala akhirnya dapat dikalahkan melalui tipu muslihat oleh Belanda. Ketika itu Raja Muda Tureli Donggo Muhammad Salahuddin mengajak para pemimpin Donggo ikut pembicaraan damai di istana. Namun setelah duduk di meja perundingan, Belanda mengepung dan menangkap pemimpin Donggo, Ntihu, Ngita dan Jeru Ncahu. Setelah perang rakyat bisa ditumpas, Belanda memberlakukan pajak belasting. Wibawa Sultan Ibrahim pun sudah diruntuhkan. Beliau wafat pada tanggal 16 Desember 1915. Sultan Muhammad Salahuddin menggantikan ayahnya. Seiring dengan munculnya pergerakan Nasional, di Bima lahir juga pergerakan. Tahun 1920, partai politik Sarekat Islam (SI) berdiri di Bima. Menyusul tahun 1937 Muhammadiyah dan Persatuan Penuntut Ilmu tahun 1938. Untuk memajukan pendidikan dibentuk pula Persatuan Islam Bima (PIB) pada tanggal 3 November 1938. Tahun 1939. cabang Partai Indonesia Raya (Parindra) terbentuk. Atas inisiatif Sultan M. Salahuddin, NU kemudian dibentuk di daerah ini. Ketuanya H. Usman Abidin. Menyusul peristiwa menyerahnya Panglima Tertinggi Kerajaan Belanda di kalijati pada 9 Maret 1943, para pelopor pergerakan di Bima mengikuti peristiwa tersebut dengan seksama. Mereka lalu menyiapkan Komite Aksi, satu lembaga yang menyiapkan diri untuk merebut kekuasaan dari tangan Belanda di Bima. Komite didukung oleh 14 serdadu KNIL yang berjiwa nasionalis. Bima pun bisa melepaskan diri dari Penjajahan Belanda pada 5 April 1942. Setelah terbebas selama 103 tahun dari cengkraman Hindia Belanda, Kerajaan Bima kembali didatangi Jepang. Tanggal 17 Juli 1942, Angkatan Laut Jepang di bawah komando Saito mendarat di Bima. Sejak itu, semuanya dalam kendali Jepang mulai dari pendidikan hingga peralatan rumah tangga. Hanya ketika Jepang meminta Jugun Ianfu, wanita penghibur, raja dan rakyat Bima menolak mentah-mentah. Untuk menghindari para wanita muda setempat jatuh ke tangan Jepang, Sultan memerintahkan untuk Nika Baronta atau Kawin Berontak. Setelah Jepang dihancurkan Sekutu dalam Perang Pasifik tahun 1944, keadaan mulai berubah. Akhir Agustus 1945, pimpinan militer Jepang Sumbawa Timur Mayor Jenderal Tanaka di raba menyerahkan kekuasaan kepada Kerajaan Bima. Pemerintah daerah Istimewa Kerajaan Bima merayakan Proklamasi di Istana Bima pada 17 Desember 1945. Serdadu NICA mendarat di Sumbawa Besar pada 1 Januari 1946. NICA kemudian mengirim telegram kepada Sultan Bima untuk menerima NICA. Sultan dan seluruh kekuatan di masyarakat menolak NICA. Akhirnya satu kompi tentara NICA mendarat di Bima tanggal 12 Januari 1946. Momentum itu disebut sebagai kehilangan kemerdekaan Bima tahap kedua. Atas gagasan Dr. HJ. van Mook sebagai Pejabat Tertinggi Kerajaan Belanda, terbentuklah Negara Indonesia Timur meliputi Maluku, Sulawesi dan Sunda Kecil. Pemerintahan di Pulau Sumbawa dijalankan oleh Dewan Raja-raja. Sultan Bima menjadi ketua. Kerajaan Bima pernah dimekarkan wilayhnya menjadi Bima dan Dompu. Namun 12 September 1947, Kerajaan Dompu dipulihkan. Bima melepaskan Dompu, yang meliputi 10 Kejenelian (kecamatan). Berdasarkan UU NIT No. 44/1950, Kerajaan Bima berubah status menjadi Daerah Swapraja Bima berikut Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Swapraja Bima pada 2 Oktober 1950. Sejak itulah berakhirnya perjalanan sejarah Kerajaan Bima selama sekitar 350 tahun. Kepala Pemerintahan Swapraja Bima adalah Muhammad Salahuddin. Setelah beliau mangkat dalam usia 64 tahun pada 11 Juli 1951, kepala pemerintahan pun kosong. Dalam periode 1951 – 1955, Putra Abdul Kahir menjadi kepala pemerintahan. Berturut-turut Haji Muhammad (1955-1958); Putra Abdul Kahir (1958-1959); Junaidin Amir Hamzah (1959-1965); Abidin Ishak (1965-1968); Soeharmaji (1968-1974); M. Toehir (1974-1979); Haji Oemar Harun (1979-1989); Abdul Halim Djafar (1989-1994); Adi Haryanto (1995-1999); H. Zainul Arifin (2000-2005) dan Ferry Zulkarnaen (2006 – sekarang).    

(Dikutip dari Muslimin Hamzah dalam Ensiklopedia BIMA, 2004)

37 Tanggapan to “Bima Sebagai Identitas”

  1. maju terus pantang mundur

  2. Terima kasih atas komentar dan spiritnya..

    Salam,
    OmpuNdaru

  3. hanafi el-Sila Says:

    Assalamu’alaikum…,
    Salam kenal, saya hanafi el-Sila alumni ponpes alhusainy bima dan alumni PTIQ Jakarta, saya tertarik dengan ompundaru karena berbicara Bima.
    Sepintas saya membaca bima sebagai identitas dan menggugah saya untuk memberi sedikit komentar.
    Berbicara bima, maka kita tidak akan pernah habis menceritakannya. Namun ada beberapa hal yang menurut saya menarik dalam bacaan di atas, yaitu tentang sejarah bima.
    Sangat benar sekali ketika dikatakan perintis bima adalah seorang dari jawa yang kita kenal dengan sang bima (nama bima diambil dari nama dia), namun dalam sejarah di BO dan beberapa buku yang ditulis oleh sejarawan lokal bahwa ada beberapa jaman yang dilewati bima; pertama, jaman naka: jaman ini juga dikenal dengan jaman prasejarah (jadi kalau dikatakan jaman ncuhi adalah jaman prasejarah maka saya kurang sepakat), kedua, jaman ncuhi, jaman awal sejarah karena telah mengenal peradaban, bercocok tanam, hingga sistem pemerintahan yang kita kenal dengan pemerintahan ncuhi itu sendiri dan kerajaan. Sejarah kerajaan bima dan sang bima sendiri benar adanya karena beberapa bukti peninggalan juga cacatan sejarah. Berbicara sang bima adalah seorang anak dari kerajaan hindu jawa timur yang konon dia mengenal bima karena memang telah ada hubungan antara orang bima sebelumnya dengan kerajaan jawa timur. Sang bima memproklamirkan dirinya sebagai raja bima yang pertama dan mengganti mbojo dengan nama bima. Mbojo sendiri merupakan nama yang diambil dari nama bukit babuju (yang berarti yang tinggi) di dara (sekarang menjadi tempat peribadatan orang budha) yang diberikan oleh lima ncuhi. Sang bima memang turunan dari raja hindu yang mempunyai misi yaitu menghindukan mbojo, namun hindu tidak terlalu berpengaruh di dana mbojo karena pada saat itu mbojo berpegang pada hukum dan agama budaya (agama yang dibangun oleh ncuhi) yaitu makamba dan makimbi (animisme dan dinamisme). juga kenapa hindu tidak terlalu berpengaruh karena pada saat itu kepercayaan dou mbojo dalam agamanya berkeyakinan bahwa raja sebagai pengayom dan pelindung rakyat banyak, hal menjadikan hindu yang beranggapan raja sebagai titisan dewa tidak terlalu diterima oleh dou mbojo. Pada jaman sang bima sendiri negara berpedoman pada hukum adat yang berlaku yang walaupun rajanya seorang hindu, itu semua karena para ncuhi. Ketiga, jaman kerajaan yang merupakan sambungan dari jaman ncuhi itu sendiri, karena dalam kerajaan, ncuhi ikut manjadi pengurus dan penasehat raja., keempat, jaman kesultanan, jaman dimana Islam mulai dikenal dalam bumi dana mbojo, benar adanya jikalau dikatakan islamnya dana mbojo karena islam dari tanah makassar, namun yang perlu kita kenal adalah islam dari makassar merupakan finalisasi islam di dana mbojo, kita perlu tahu keadaan pusat islam ketika abad ke-16 (sekitar tahun 1530-an), pada abad inilah sebenarnya dana mbojo mengenal islam yaitu yang disyiarkan oleh ulama dan pedagang muslim dari pusat islam saat itu yaitu demak. Tomy pires juga mengatakan bahwa pada abad ke-16 pelabuhan bima telah ramai didatangi oleh pedagang nusantara yang berdagang hingga ke ternate dan juga orang bima menjual barang berupa kain-kain. Juga pada abad yang sama kerajaan islam ternate yang merupakan pusat kerajaan islam pada masa itu telah menyentuh tanah bima yang saking luasnya kekuasaan kerajaan ternate pada saat itu mencakup sangaji kore-NTB, kemungkinan besar kore yang dimaksud adalah sanggar yang sekarang, kalau kemungkinan itu benar maka pada saat itu islam telah menyentuh dana mbojo. Namun masalahnya kenapa pada saat itu mbojo tidak dikenal islamnya karena islam yang datang dari dua tempat ini tidak menyentuh wilayah dan keluarga raja bima tetapi hanya sebatas masyarakat atau rakyat jelata yang berada di pinggiran laut yang pada saat itu adalah masyarakat di sekitar langgudu. Jadi menurut saya bima telah islam jauh sebelum islamnya makassar dan sekitarnya. Sorry ompundaru kayaknya cape ngetik ni.. Laper juga, untuk kelanjutannya lain waktu kita berjumpa lagi.. Saya suka banget berbicara bima.
    Trims el-sila
    CP: 081-7676-9796

  4. Terima kasih banyak Bung Hanafi..

    Postingan saya tentang Bima Sebagai Identitas, berasal dari Buku Ensiklopedia Bima. Memang ada banyak versi mengenai cerita rakyat Bima. Dokumen asli sejarah Bima setahu saya hanya berasal dari yang namanya Buku BO, yang menceritakan tentang Kerajaan Bima itu sendiri. Sedangkan cerita-cerita lainnya hanya berasal dari mulut ke mulut, dongeng dan sebagainya.

  5. hanafi el-Sila Says:

    oy… Ompundaru posisinya dimana ne.. Di bima atau di luar bima..???

  6. Bung Hanafi.. Ompu sekarang lagi di Kabupaten Lembata (Pulau Lomblen). Sedang merantau..

  7. pulau lomben itu dmn???

  8. Pulau Lomblen adalah nama lain dari Pulau Lembata, letaknya di sebelah timur Larantuka, di Flores Timur Propinsi Nusa Tenggara Timur, ato coba cari deh di Wikipedia. Yang lebih terkenal lagi, Lamalera, tempat dimana ada Perburuan Ikan Paus secara tradisional. Kapan-kapan, jalan-jalan deh ke sana. Ompu tunggu..

    Regards,
    OmpuNdaru

  9. hanafi elsila Says:

    oce ompu…!!! Insyaallah kapan-kapan ompu… Oy dalam rangka apa ni ompu merantau.. Hanafi juga masih diperantauan orang ne ompu…!!!

  10. Ok juga Bung Hanafi. Ompu kerja di Lembata, Ompu di INGO di Plan International, dulu tugas pertama di Kab. Bima, setelah itu dipindahkan ke Kab. Soe, dua tahun di sana di pindahkan lagi ke Kab. Lembata.
    Sukses untuk Bung Hanafi di perantauan juga..

    Regards, OmpuNdaru

  11. hanafi yasin Says:

    ompu kebetulan ni.. saya dah lama mengenal plan tapi masih samar tentang isu plan ni, saya tertarik n pengen tahu lebih dalam tentang plan ompu, kalau bisa tolong dibantu saya ompu??? trims..

  12. hanafi yasin Says:

    oce ompu trims…!!!

  13. Sama-sama Bung Hanafi..

    Salam,
    OmpuNdaru

  14. au rawi ompu..?? bune habata…!!!

  15. Om Hanafi..

    Haba tahompa ni.. Ompu bou pu mbali wali aka Lembata ke, bou pu dula dari jakarta..

  16. MalAm Ompu..!! Bune haBata..??? Oy oMpu..tolong kasI koMentnya N masUkannYa bwt bLog barU mada DgN almt http://blogmbojobanget.blogspot.com, Mada coBa baHas mbojo jg omPu.. Trims.. D tunggu comentx ompU..

  17. Malam Bung Hanafi.. Ok Ompu meluncur, ditungu yah dengan secangkir kopi pahitpun cukuplah hehehe..

  18. ompu.. tolong lirik blog mada di http://blogmbojobanget.blogspot.com, mada angkat masalah mbojo juga juga ompu.. trims

  19. Bung Hanafi, Ompu sudah berkunjung ke blogna.. terima kasih yah atas keramah tamahannya.. Blog bagus.. mudah-mudahan akan berarti bagi kita semua yang membacanya..

    Regards, OmpuNdaru

  20. Oh ya.. De mabau da kahaba kai mada ompu.. Dalam rangka pa k jakarta ompu..??

  21. Wah.. coba tau Bung Hanafi ada di Jakarta, Ompu pasti hubungin deh.. Ada urusan keluarga.. Mungkin lain waktu yah.. Terima kasih sebelumnya.

    Regards, OmpuNdaru

  22. Iya ompu.. Makasih banyak..

  23. Sama-sama Om Hanafi..

    Salam,
    OmpuNdaru

  24. hanafi elsila Says:

    bune hb ompu…???

  25. Om Hanafi,

    Haba taho, bune haba Om Hanafi..?

    Salam, OmpuNdaru

  26. Achul Mbojo Says:

    Salam Kenal Ompu…..!!! Oia Bang Hanafi Sila Juga, Saya tertarik membaca Tulisannya Ompu.

  27. Salam Ompu
    Salam kenal:)
    senang membaca ringkasan Ompu tentang Bima. mada pernah baca sejarah Bima yang tebal itu (lupa judulnya) ketika SD. benar-benar menumbuhkan semangat dan membuat mada bangga menjadi Dou Mbojo.namun belakangan ini, muncul pesimisme dalam diri mada melihat realitayg ada di Dana Mbojo skrg. keinginan u/ pulang dan langsung mengabdi perlahan-lahan surut.
    bagi2 semangatx Ompu:)

    btw, Ompu kerja di Plan International ya? mada pernah mengikuti kongres anak Nasional tahun 99 di Lawang, malang.
    kalau ada info lowongan kerja di Plan, bagi2 ya Ompu. saya sangat ingin bekerja sebagai humanitarian apalgi untuk wilayah timur.

    kalau ada waktu,maen ke blog mada: http://erikmarangga.blogspot.com

    thanks
    regards

    erikmarangga

  28. oh ya Ompu, mada link Blog ya? kalau berkenan, link balik juga blog mada.thanks

  29. keren,soalnya mada do’u mbojo asli cuma ga terlalu tau sejarah bima.saluuuut atas postingannya🙂

  30. Mbojo Ndaiku, Mbojo Ndaimu, Mbojo Ndaita….. Mai Ta Kabua Kasama

  31. muhammad arief widiansyah Says:

    Thaks ya ompundaru atas artikel2 watak orang bima………….. by arief orang bima cucu ama sale dan ina sa’ati………… ponakan om kahar.

  32. Moes Ana Fandy Says:

    Ompu Ndaru

    Saya tertarik mendiskusikan sejarah Bima dari perspektif lokal, dari pandangan dunia orang Bima tentang sejarah negeri mereka sendiri. Memang banyak sumber yang menjadi referensi awal untuk memahami sejarah Bima, seperti bo. Namun, sumber ini tidak merefer kepada semua entitas yang ingin ditampilkan sehingga banyak persoalan yang masih menggantung bahkan misterius. Misalnya, hubungan politik dan kekuasaan antara Bima dengan Gowa, Bima-orang-orang Melayu, Bima-Manggarai, Bima-Jawa, Bima-Dompu atau dengan unit-unit politik lain yang tersebar di seluruh jazirah timur Kepulauan Sunda Kecil. Saya menawarkan kepada mereka yang ingin mengetahui sejarah daerah ini secara komprehensif sebaiknya membaca juga sumber-sumber dari Gowa seperti Lontara Bilang yang sudah ditransliterasi ke dalam aksara Latin yang sangat mudah dipahami. untuk periode sekitar tahun 1930-an, bisa dibuka dalam MvO (Memorie van Ovenhage) dari beberapa residen Timor dan daerah taklukannya. Itu sekedar info. Yang berminat, saya punya bahannya.

    Jakarta, 4 November 2010

  33. ASSALAMUALAIKUM salam kenal ka” saya mahasiswa dari UNM mau minta tolong mengenai informasi informasi tentang kerajaan bima dan situs situs peningalannya karena mau saya angkat sebagai judul penelitan studi akhir saya Ka” mohon bantuannya ya ka”

  34. pokoke cerita mbojo tak akan bosan bagiku walau aq ni tinggal di negri orang “thanks ompu ndaru en lam kenal

  35. bismillahirahmanirahim…
    ass…wr…wb….
    salam nggahi man toi .
    adakalah kita sering acuhkan sejarah , bukan karna kelebihan ataupun kekurangan trus apa,,? ataukah mungkin sejarah telah mengutuk kita ,,? ah tidak mungkin,,! alasannya karna pradaban suatu sejarah kini tak lg bisa hadir untuk menjelaskan kepada kita .
    trus apa yg bisa kita lakukan,,? jawabannya hanya da dalam kecilnya hati kita yg terlahir dari sejarah..

    dengan adanya sebuah referensi mungkin kita sedikit di batuin untuk menggali sejarah itu , bukan berarti saya mengatakan tidak dengan sejarah yg tertulis . tetapi melihat dari kebanyakan sumber identifikasi history m semua kontradiksi ,,!! dan kini saatnya akan saya buktikan bagaimana sejarah bima yg sebenarnya ,! namun untuk saat ini kesempatannya kita sampai disini dulu sebabgai perkenalan awal.!

    hormad
    Guntur.MS.S.Farm ,.Apt,.M.HKes.

  36. I’m really enjoying the design and layout of your site.
    It’s a very easy on the eyes which makes it mhch more enjoyable for me to comke here and visit more often.
    Did you hire out a developer to create your theme? Excellent
    work!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: