Krisis dan Sakit Jiwa


Akibat krisis ekonomi yang terjadi di seluruh dunia, banyak bank dan perusahaan pembiayaan yang kehabisan uang. Pada gilirannya, banyak pabrik yang tidak bisa mendapatkan kredit untuk modal kerja karena bunga bank tinggi dan karena bank enggan memberi pinjaman. Takut uang yang keluar tidak bisa kembali lagi. Akibatnya pendapatan perusahaan menurun. Untuk menjaga margin keuntungan tetap, banyak kantor yang melakukan PHK demi menghemat operasional karena SDM merupakan salah satu pos fixed cost.

Di Amerika Serikat, sejak kasus gagal bayar kredit perumahan muncul ke permukaan, ada 500.000 rumah terpaksa disita di seluruh negeri. Di saat yang sama, jutaan orang menganggur akibat pemecatan. Jadi mereka bukan saja kehilangan pekerjaan, bangkrut dan tak punya sisa uang di bank, tapi juga punya setumpuk tagihan utang kartu kredit dan rumah tempatnya berteduh juga disita bank. Betul-betul situasi yang sama sekali tidak menyenangkan. Karenanya, tidak heran jika hasil penelitian di lapangan menemukan, bahwa ada hubungan yang erat antara krisis ekonomi dan sakit jiwa.

Misalnya saja menurut Prof. Rachel Jenkins dari Institute of Psychiatry di King’s College London, sebanyak 50% dari mereka yang terbelit utang mengalami gangguan kejiwaan. Bandingkan dengan angka 16% gangguan jiwa dari populasi secara umum. Sementara mereka yang mengalami pemutusan sambungan air bersih, listrik, gas dan public utility lainnya akibat menunggak pembayaran, menderita sakit jiwa 3-4 kali lipat dari populasi masyarakat umumnya.

Mereka yang terbelit dalam lingkaran setan utang memiliki tingkat depresi 2-3 kali lipat di atas warga umumnya yang tidak punya utang. Mereka diketahui memiliki tingkat psikosis (depresi dalam tingkat yang lebih parah sampai tidak bisa membedakan kondisi riil dan khayalan). 3 kali lipat jumlahnya daripada orang normal dan 2 kali lebih parah dalam kasus ketergantungan pada alkohol, serta 4 kali lipat lebih tinggi angkanya dalam kasus mengkonsumsi obat-obat terlarang.

Lebih parah lagi dari itu, kasus bunuh diri biasanya naik dalam situasi ekonomi kacau. Di seluruh belantara Amerika saja terjadi sejumlah kasus, di mana ada ayah yang menembak mati seluruh anggota keluarganya setelah dipecat dari pekerjaannya. Ada nenek-nenek yang bunuh diri setelah rumah yang dihuninya hendak disita oleh bank karena angsurannya macet. Ada juga seorang ibu yang mengirim surat ancaman bunuh diri setelah menerima surat peringatan dari bank. Ketika akhirnya petugas datang, ibu itu ditemukan tergeletak dengan luka tembakan di dada.

Kondisi yang sama saat ini mulai terjadi di Indonesia. Pabrik-pabrik yang bergantung pada ekspor ke Eropa dan Amerika harus menghadapi kenyataan bahwa banyak pesanan sebelumnya dibatalkan atau tidak ada order baru. Kelesuan ekonomi sedang melanda pasar-pasar ekonomi terkemuka dunia akibat penggangguran dan kebangkrutan. Rumah tangga di negara-negara besar yang selama ini menjadi pembeli setia produk-produk Indonesia seperti pakaian jadi dan furniture tidak lagi memiliki uang untuk membeli pakaian baru ataupun mengganti peralatan dalam rumah tangga.

Dalam situasi seperti saat ini para pengamat kejiwaan menganjurkan agar situasi kerja di perbaiki. Hubungan antara pemilik usaha dan buruh dipermulus. Konflik dihindari. Kondisi ekonomi sulit menyebabkan para karyawan merasa tidak aman. Mereka yang merasa terancam bisa sewaktu-waktu di PHK atas alasan ekonomi tidak akan fokus dalam bekerja. Akibat lanjutannya, produktifitas menurun. Perusahaan juga yang akan menderita kerugian.

Kepada warga masyarakat yang masih berusia remaja juga dianjurkan untuk lebih melek secara financial. Bahwa pekerjaan tidak selalu tersedia, bahwa menabung itu perlu untuk menghadapi hari-hari mendung, bahwa berutang (termasuk berutang kartu kredit) hanya menghasilkan gangguan jiwa daripada ketenangan hidup.   

16 Tanggapan to “Krisis dan Sakit Jiwa”

  1. memprihatinkan,,,,

  2. Iyah.. makanya jangan sampe kena imbas juga..

  3. assalaamu’alaykum
    mampir…

    hem…
    iya ni..
    tidak hanya krisis amrik ya yg sebenarnya bisa bikin orang ‘sakit jiwa’…
    betul, memprihatinkan…

  4. Waalaikumussalam..
    Terima kasih udah mampir dan ngasih komentar..
    Yah.. begitulah adanya, memang memprihatinkan..

    Salam,
    OmpuNdaru

  5. Jika diamati, hubungan kondisi eksternal dan kejiwaan sangat tergantung pada kemampuan mengelola diri ya. Berlawanan dari angka2 canggih yang dipaparkan di atas, kondisi sekitar yang saya toh tidak segitunya terimbas.

    Jika memang ada masalah, kan ada couching counselling di kantor. Atau tidak sedikit juga yang ‘lari’ ke agama untuk menurunkan intensi tekanan jiwanya.

  6. Saya setuju dengan Sanggita..
    Tidak semua orang mengalami depresi seperti yang dipaparkan di atas, tergantung bagaimana cara orang tersebut mengatasi masalah yang dihadapinya. Tapi terkadang juga ada yang imannya tipis sehingga gelap mati, maka terjadilah kasus tersebut.
    Thank’s untuk komentarnya.

    Salam,
    OmpuNdaru

  7. Selamat sore Bang Ompundaru, senang bisa kunjungan lagi di blognya, yang lebih banyak tulisan-tulisan yang bagus yang menginspirasi saya, Lho koq komentar saya yang dulu dibuang ya ? atau eror, apapun, yang jelas aku suka blog ini, begini Bang Ompu dunia yang unpredictable ini memang memerlukan supaya kita sensitif dalam bersikap, Memang krisis banyak melanda manusia, bukan hanya krisis ekonomi tetapi juga krisis kepercayaan, krisis meaning, krisis legowo, itulah sebabnya kita hanya menyikapinya dengan cerdas, sekedar berbagi : saya baca di harian Reader DGST seorang Pengusaha kaya (milyader) bunuh diri terjun dari hotel lt 24. Selidik punya selidik si konglomerat ini kelilit utang, Lho koq bisa ya ? Nah itulah hidup, jangan terpaku kepada krisis tapi kepada penyelesai krisis. Okay Bang sukses untuk anda.

    Regards, agnessekar

  8. Selamat sore ibu Sekar.. Terima kasih atas supportnya, rasanya termotivasi. Komentar yang mana yah..? Dulu komentarnya kemana ibu? Mungkin bukan di sini, saya juga perasaan pernah balas komentar ibu deh..
    Ok Ibu, sukses juga untuk ibu, senang sekali bisa belajar banyak dari pemikiran ibu.

    Salam,
    OmpuNdaru

  9. sangat memprihatinkan sekali bangsa kita ini….
    kalau menangapi masalah krisis memang tidak ada habisnya…
    apa lagi zaman sekarang cari kerja susah, sekalinya dapat yang outsourcing yang saya pikir lebih menguntungkan perusahaan daripada karyawannya….
    tapi kembali kepada diri kita masing-masing, bagaimana kita menyikapiya….
    jika kita hanya menyalahkan “keadaan”, kita tidak akan beranjak maju…
    jadikan “keadaan” sekarang untuk memotivasi diri untuk menjadi yang lebih baik…

  10. Saya setuju dengan Mas Heru…
    Untuk menyikapinya, menurut saya juga tergantung dari kuat dan tabahnya jiwa kita menghadapi segala cobaan tersebut.
    Tuhan tidak akan pernah mencoba umat-Nya melebihi kekuatannya..
    Ok mas terima kasih atas komentarnya.

    Salam,
    OmpuNdaru

  11. halo salam kenal!!! tukeran link yuk!!

    http://blogmeruh.blogspot.com

  12. Salam kenal juga…
    Mari..mari kita tukeran link.. Ma kasih udah mampir di blog sederhana ini..

    Salam,
    OmpuNdaru

  13. Memang landasan agama yang kuat, dan berpikir positif sangat di butuhkan dalam situasi seperti ini, kalau tidak beneran bisa gila ya nggak oom,
    Salam

  14. Saya setuju pak..
    Terima kasih udah berbalas mampir dan tinggalin komentar di blog sederhana ini.

    Salam,
    OmpuNdaru

  15. personal care products market in sri lanka

    Krisis dan Sakit Jiwa | OmpuNdaru’s Blog

  16. nutrition oj

    Krisis dan Sakit Jiwa | OmpuNdaru’s Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: