Sudahkah Hak-hak Anak Kita Terpenuhi?


Setiap anak sejak dalam kandungan ibunya, telah memiliki hak-hak yang harus dilindungi oleh semua orang. Kita tidak boleh menginjak-injak hak anak tersebut. Nah, apa sajakah hak-hak anak itu? Menurut Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA), setiap anak memiliki sedikitnya 4 hak, yaitu Hak Hidup, Hak Tumbuh Kembang, Hak Perlindungan dan Hak Berpartisipasi. Keempat hak tersebut sudah dimiliki setiap anak sejak di dalam kandungan ibunya hingga lahir dan menjadi dewasa. Kita semua, yakni orang tua, masyarakat umum dan pemerintah harus bertanggungjawab untuk terwujudnya perlindungan terhadap hak-hak anak.

Pertama, Hak Hidup. Ini mengandung makna bahwa setiap anak memiliki hak untuk hidup. Jadi setiap orang, entah dengan sengaja atau tidak sengaja, harus membiarkan setiap anak untuk hidup. Setiap tindakan yang dengan sengaja atau tidak dengan sengaja  menyebabkan hak hidup seorang anak terabaikan, maka tindakan tersebut termasuk melanggar hak hidup anak. Misalnya saja, ibu yang sementara hamil tidak boleh melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Karena ibu hamil yang bekerja terlalu berat dapat menyebabkan kehidupan anak di dalam kandungannya terganggu, bahkan bisa menyebabkan kematian. Selain itu, ibu hamil harus selalu menjaga kesehatannya, baik di dalam tubuh maupun di luar tubuh. Juga perlu makan makanan yang bergizi serta selalu memeriksa kandungannya di Posyandu atau Puskesmas. Tindakan-tindakan seperti itu akan dapat menjaga kehidupan anak di dalam kandungan berjalan normal dan baik.

Kedua, Hak Tumbuh Kembang. Hal ini dapat dipahami bahwa setiap anak perlu diperhatikan akan kebutuhannya untuk tumbuh kembang, baik fisik, mental maupun rohaninya. Untuk tumbuh dan kembang fisiknya, anak-anak berhak mendapatkan makanan yang bergizi. Melalui makanan yang bergizi maka pertumbuhan fisik anak akan berjalan dengan normal. Bila anak sakit maka ia berhak mendapatkan perawatan/pengobatan yang memadai hingga sembuh. Secara mental, anak-anak berhak mendapatkan perlakukan yang baik. Ini berarti setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang baik sesuai dengan perkembangan umur dan mentalnya. Dengan demikian, pendidikan bagi anak-anak tidak boleh diabaikan.

Ketiga, Hak Perlindungan. Ini mengandung perngertian bahwa setiap anak berhak mendapatkan perlakuan atau keadaan yang aman bagi dirinya. Misalnya, anak-anak tidak boleh dibiarkan berada di suatu tempat yang berbahaya yang dapat mengancam kesehatan atau keselamatan dirinya.

Keempat, Hak Berpartisipasi. Artinya, setiap anak berhak diberikan kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam setiap pengambilan keputusan dan pelaksanaan suatu program pembangunan, baik di rumah maupun di dalam masyarakat. Jadi, anak-anak berhak untuk menyampaikan pendapat. Anak-anak, walaupun secara fisik mereka masih kecil tetapi juga memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan membuat keputusan.

57 Tanggapan to “Sudahkah Hak-hak Anak Kita Terpenuhi?”

  1. dan masih saja banyak orang yg tega membunuh janin yg dikandung sebelum janin itu sempat mencicipi hidup…

  2. Setuju.. Itulah bagian dari ketegaan “Sifat” Manusia. Saya juga tidak tau, apakah itu dilakukan dengan sadar atau tidak sadar.
    Terima kasih atas komentarnya..

    Salam,
    OmpuNdaru

  3. mereka itulah manusia, sebenarnya melebihi manusia. bahkan tuhan pun ia lawan…

    http://warungpendidikan.blogspot.com/
    salam kenal brooooooooo………….

  4. Salam kenal juga..
    Terima kasih sudah mampir, berkomentar dan meninggalkan jejak, Insya Allah lain waktu akan saya ikuti jejak ini.

    Salam,
    OmpuNdaru

  5. cetuju om dan tante…
    emang tindakan aborsi telah merenggut salah satu hak anak. biar kata udah lahir juga, membunuh anak emang tetap tidak bisa dibenarkan… untuk para aborsi mania, anda tidak akan merasa hidup tenang..!!!!

  6. Abhiepraya..
    Terima kasih udah mampir dan berkomentar.
    Saya setuju dengan komentarnya.. Mudah-mudahan yang melakukan perbuatan tersebut bisa menyadari bahwa perbuatan tersebut adalah salah.

    Salam,
    OmpuNdaru

  7. Hak perlindungan anak ya…hemm patut dipertahankan, tapi maaf, itu atas nama konstitusi hukum kn…..:D

    oiya, mo komen juga, bahwa fatwa MUI mengatakan (yg kemaren dikeluarkan bebarengan dg fatwa haram merokok) bahwa tidak ada batasan umur dalam menikahi seorang gadis, batasannya yang penting boleh digauli ketika dah baligh. jadi, mungkin seorg Syekh di Smg yang sempat bikin heboh, bisa agak senyum…

  8. Maz Nurrahman, Meski itu adalah atas nama hukum, paling tidak itu berhubungan dengan anak-anak yang ada di sekitar kita, yah paling tidak setiap hari kita mungkin selalu berinteraksi dengan mereka dan kita paham bagaimana sikap dan perilaku kita sebagai orang dewasa terhadap perlindungan anak tersebut. Ternyata ada hukumnya..
    Untuk batasan hukum dalam hal batasan umur bagi seorang gadis untuk digauli, saya juga tidak begitu tau dengan hal yang berhubungan dengan fatwa MUI, tetapi setahu saya itu masih diperbincangkan. Karena secara logika, bagaimana mungkin kita bisa menggauli seorang gadis kecil yang notabene perkembangan alat reproduksinya belum sempurna. Apakah itu tidak masuk dalam tindakan kekerasan terhadap anak? Saya yakin, dari segi kesehatan/kedokteran, itu tidak dibenarkan. Seingat saya juga Menteri Pemberdayaan Perempuan juga pernah berkomentar tentang hal ini.
    Tapi terima kasih banyak atas komentarnya.

    Salam,
    OmpuNdaru

  9. hak belajar gw udah terpenuhi. hak main gw udah terpenuhi. hak kasih sayang dari orang tua udah terpenuhi. tinggal hak mas kawin dari nikah aja yang belom… kan gw masih 14 taun. hehe

  10. Wah… Berarti maz Diaz harus sabar menunggu sampe siap dulu baru bisa menuntut hak yang itu.. Atau udah keburu..?

  11. satu yang banyak sekarang orang tua lakukan ompu… terlalu Mengkekang kreatifitas dan jalan hidup anak…. come on Parent, that non good treatment…
    1 hal yang kita punya di dunia ini : KEBEBASAN (“”), Kebebasan secara hakiki yang dimiliki setiap individu sejak lahir…

    menurut saya ompu seorang anak atau individu memiliki hak yg sangat fundamental dalam masalah ini. seorang anak yang hidup di dalam tekanan karna paksaan jelas tidak akan maksimal dalam kehidupannya.
    mungkin hanya satu yg harus di sadari sebagai orang tua..
    anak adalah titipan tuhan. anak bukanlah boneka yang bisa digerakkan semaunya.. Setiap orang punya takdir dan jalan hidupnya masing2..
    jdi gx bsa kita pandang rendah kesukaan anak yang menurut orang tua mungkin percuma atau sia2… dan sebaliknya anak pula harus mengabdi dan menyayangi orang yg telah membesarkannya dgn cinta dan kasih sayang dalam bentuk apapun. oleh karena itu keseimbangan dalam hubungan antara anak dan orang tua sangatlah d perlukan. sifat saling pengertian, saling mendukung dlm hal yg posittif, dan mengalah demi air mata kebahagiaan sang terkasih…
    kesimpulan saya Ompu… hidup toh cuma sekali…
    lakukan apapun yang sejatinya baik untukmu… karna tiada lain seseorang yang akan menahkodai dirimu di lautan luas ini selain jiwa dan ragamu sendiri….

    Best regard for Ompu,

    Xentala

  12. Saya juga setuju dengan pendapatnya Xentala.. Tapi sebagai anak juga kita harus sadar, bahwa kebebasan yang diberikan oleh orangtua harus dipertanggungjawabkan, tidak kebablasan. Tidak ada satupun orangtua yang ingin melihat anaknya tidak berhasil dalam hidupnya. Itulah bukti kasih-sayang dari orangtua. Dimata orang tua, sebesar dan sedewasa apapun anak, bagi mereka kita tetap anaknya (anak kecil) yang harus mereka lindungi. Tapi, terkadang juga orangtua terlalu proaktif dalam melihat perkembangan anaknya sehingga selalu mengarahkan sesuai dengan keinginan mereka tanpa menyadari dan mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan oleh anak. Mungkin kunci dari semua itu adalah bagaimana komunikasi antara anak dan orangtua begitu pula sebaliknya.
    Teringat juga akan puisinya Khalil Gibran yang menceritakan tentang anak, yang mengatakan bahwa anak adalah ibarat anak panah, sedangkan orangtua adalah ibarat busurnya, orangtua mengarahkan busur kemana arah yang tepat, tapi yang pasti tidak pernah tau kemana jatuhnya anak panah tersebut. Tinggal sang anak yang akan menentukan mau jatuh dimana dia. Ke tempat yang baik atau ke tempat yang buruk.
    Thank’s Xentala.

    Salam,
    OmpuNdaru

  13. OIYA ada pesen buat mas nurrahman.
    saya ngerokok kox mas…
    menurut saya loh.. itu cuma Fatwa MUI…
    Kebenaran yang hakiki cuma milik TUHAN mas…
    contohnya : ada 100 kebenaran muncul terhadap 1 hal dari 100 mulut manusia yang berbeda, dan sebagian dr kita yakin bahwa itu benar. tapi ada ribuan orang yang yang akan siap segera menemukan kebenaran lain dari hal yang sama tersebut…. Bisa di analogikan kita tuh hanya setetes air di lautan luas milik Sang Pencipta… Subhanallah,, betapa kecilnya kebenaran yg kita punya dibandingkan kebenaran yang dimiliki oleh -NYA…

  14. Bagaimana dengan Maz Nurrahman..?

  15. anak merupakan aset bagi kita, apa lagi tang sudah dikaruniai anak tentunya….
    unntuk itu, salah besar jika aset kita sia-siakan apalagi kita telantarkan.
    aseet brooo……………

    LingkaranIlmu

  16. Saya setuju broooo.
    Anak itu aset..

    Salam,
    OmpuNdaru

  17. agunk agriza Says:

    BELUM semua hak anak terpenuhi🙂
    tp sya sbg anak mrasa bangga punya ortu yg memberikan smua hakku🙂

    emm.. tp dluar sana, msi bnyak yg ga dpt hak2nya ..😦

  18. Maz Agunk, terima kasih atas kunjungan balik dan komentarnya..
    Saya setuju maz.. Bersyukurlah orangtua yang mengerti tentang perlidungan terhadap anak sehingga hak-hak anaknya bisa terpenuhi seperti maz agunk. Tapi sebagian besar orangtua masih sibuk dengan dirinya sendiri, sehingga masih banyak anak-anak yang terabaikan haknya.. ironis memang, tapi begitulah kenyataannya.. Tapi mudah-mudahan ke depannya akan lebih bagus lagi dan anak-anak yang terlantar akan semakin berkurang.

    Salam,
    OmpuNdaru

  19. Kalo Ompu bukan komunitas tapi aktivis alam dan lingkungan…
    Itu udah jadi hirarki teratas ompu buat kita-kita.. bisa d bilang master, suhu atau dedengkotnya kita..
    tapi buat ompu segera kita taro link nya biar para komunitas pecinta alam lain tau ada orang yang bisa dan mampu bergerak sendiri dengan sejatinya jiwa raga tergerak secara alamiah untuk mencintai, menjaga dan melestarikan alam yang telah di ciptakan tuhan untuk kita semua…
    Terus kan perjuanganmu ompu….
    Kayanya Udah Gx sabar neh mu punya Momongan si Ompu….hehehehe

  20. Xentala.. Xentala… Benar lho.. Gak ada matinya.. Hahahaha…

  21. Wah hak anak saya belum terpenuhi semuanya gimana dunk..

    Ssoalnya saya belum buat dan belum ada wadahnya he he he..

    Maz Ompu semangatz yaw..(Insyaallah nanti saya juga akan aktif di LSM anak) Salam…

  22. Bocah Bancar.. Aduh, kok bisa hak anak bagi Bocah Bancar belum terpenuhi semua.. Gimana neh cara memenuhinya..?
    Terima kasih Bocah Bancar, sudah mampir, sudah berkomentar dan sudah memberikan spirit..
    Semangat juga buat Bocah Bancar..

    Salam,
    OmpuNdaru

  23. hahahahaha…. maklum ompu masih muda…

  24. Yaahhh.. Dimengerti Xentala.. Anak muda yang kreatif.. hehehe..
    Tetap semngat Xentala..

    Salam,
    OmpuNdaru

  25. Hak Berpartisipasi..
    menurut aku, kok ini yang susah ya Ompu?? Even untuk menentukan tujuan liburan, atau ingin dibagi sedikit permasalahan keluarga saja.. Hak Berpartisipasi anak belum lazim di Indonesia mungkin yagh? Kalo anak mau tau, pasti tanggapan orangtua: “kamu masih terlalu kecil..”
    padahal mungkin aj si anak punya pikiran yang lebih jernih dan logis ketimbang orangtuanya..
    anyway, Ompu..
    aku link ya.. ^^

  26. PutriNegriAngan..
    Terima kasih udah balas mampir di tempat sederhana ini..
    Sebenarnya, kadang-kadang kita nggak sadar kalau komunikasi dengan orangtua juga penting, karena seperti kata Putri bagaimana kita bisa menentukan even liburan jika kita tidak pernah menyampaikannya kepada orangtua kita atau paling tidak membicarakannya. Hal itu yang kadang-kadang orang Indonesia menganggapnya sepele. Biasanya komunikasi yang terjadi hanya satu arah saja, yaitu dari orangtua ke anak, sedangkan dari anak ke orangtua, belum begitu banyak terjadi.
    Btw.. Thank’s for the attention..
    Silakan di link Putri..

    Salam,
    OmpuNdaru

  27. thengkyu untuk kunjungan ke blog aku Bung,
    ahaha.

    eh eh eh eh
    ga semua yang anda baca dan anda liat itu benar bung !!!
    ga gitu juga,

    eh eh Bung,
    aku kan bloger baru nih,,
    banyak belum bisa nya,
    belajar juga otodidak,

    boleh kah berbagi ilmu supaya blog aku bisa semenarik blog anda??
    he heheheh

  28. Dhesmarleni..
    Terima kasih juga sudah berkunjung balik. Yah.. memang kadang-kadang apa yang ditampilkan tidak mutlak sama dengan kenyataan. Tapi intinya “Ada” permasalahan seperti itu.
    Oh yah.. Untuk kita bloger, kadang juga kita memulainya dari belajar, nanti juga lama-lama bisa, tergantung bagaimana pengembangannya. Saya juga baru, dari tidak tahu, tapi lama-lama jadi seperti ini. Boleh..boleh.. anytime.. anywhere..

    Salam,
    OmpuNdaru

  29. bener ompu, bisa karena terbiasa tuh lebih ngirit dan bebas polusi dibandingkan dengan bisa tapi gx biasa….hahahaha

  30. Sip Xentala…
    Xentala bisa aja…

  31. Selamat malam Bang, aku sendiri sering trenyuh jika melihat anak-anak tidak sebagaimana mestinya hidup dengan dunianya, apalagi hak-haknya tidak dipenuhi, karena aku salah satu Ibu yang protektif banget sama anak, sampai-sampai kalau anak pulang kelewat jamnya sedikit kuatir, tapi untuk urusan hak hak anak aku sangat setuju, jangan sampai anak tidak menikmatinya. Bahkan saya merasa berdosa jika orang-orang yang ikut saya di rumah tidak bahagia apalagi kelaparan dijauhkan . Okay B est Regards, agnes sekar

  32. Selamat malam Mba’ Sekar.. Hehehe.. baru aja kepikiran mau kunjungin blognya mba’ tapi udah keduluan..
    Terima kasih komentarnya, ini baru ibu yang betul-betul sudah mengerti bagaimana tentang anak. Perlu ditiru.. Mudah-mudahan akan banyak ibu seperti Mba’ Sekar yang begitu peduli dengan hak-hak anak.
    Terima kasih atas kunjungannya.

    Salam,
    OmpuNdaru

  33. kaga ahh… masa kawin di umur 14 tahun?? gile aja… bisa digebugin sama tukang loak gw… (entah kenapa)

  34. Yah.. Sapa tau terinspirasi Pernikahan Dini.. Masa Maz Diazhandsome yang ganteng (khik..khik…) takut sama tukang loak..?

  35. maka dari itu….dari data yang ada,,,banyak anak Indonesia belum memperoleh haknya..ini yang harus kita sadarkan.
    Orang tua harus memberi yang terbaik untuk anaknya,juga harus bertanggung jawab atas semua hak anak,,,gak gampang lho mendidik anak….maka kalau mau nikah,harus tahu dan siap untuk memberi yang terbaik untuk keluarga dan anak anaknya….he..he…yang belom nikah pada takut nih….

  36. Assalamualaikum Ibu Dyah Suminar (Ibu Walikota Jogya kalo gak salah..)

    Selamat datang dan terima kasih banyak ibu sudah berkenan mampir dan berkomentar di blog sederhana ini..
    Saya setuju dengan komentar ibu, sebenarnya bagaimana jadinya anak tergantung juga pada orangtuanya, Hak Anak akan terpenuhi secara otomatis jika para orangtua mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang, pengertian dan bagaimana memberikan yang terbaik pada anak..
    Mungkin juga ibu, yang belum nikah jadi pada takut.. hehehe… tapi saya tidak kok..

    Wassalam,
    OmpuNdaru

  37. ben german Says:

    saya punya keponakan2 yang masih duduk di bangku sekolah. dan walaupun saya kadang galak dalam mendidik mereka, jauh dalam hati saya ingin sekali membuat mereka senang dan tertawa setiap hari. saya ingin melihat mereka tumbuh dengan pendidikan yang luas, bakat yang tersalurkan dan paling penting tentu saja memenuhi kebutuhan sekolah dan nutrisinya. thanks ompu atas komen di blog saya. good luck ya!

  38. Saya yakin sekali perasaan dan niat baik yang ada dalam hatinya adalah yang terbaik bagi keponakan-keponakannya. Terima kasih banyak sudah berbalas mampir dan meninggalkan komentar. Sukses juga untuk anda.

    Salam,
    OmpuNdaru

  39. waah… pesan klo nanti punya anak nech…🙂
    bagus masss….😉

    Salam kenal…😉

  40. Mas Angga Erlangga.. Terima kasih banyak udah komentarin postingan yang sederhana tersebut, juga buat sempatnya berbalas mampir di sini..

    Salam kenal juga,
    OmpuNdaru

  41. ompu kami datang lagi mengantui ompu…hi…hi..hi..hi..
    ompu comment donx di postingan baru kita..
    judulnya…. “keberuntungan dan keyakinan mampu mematahkan logika”

  42. Ok.. Xentala, terima kasih atas informasinya.. Nanti saya akan langsung ke sana.
    Baru bisa update, baru dari lapangan.. Biasalah, orang lapangan.

    Salam,
    OmpuNdaru

  43. Setuju..kebanyakan orangtua menganggap pemenuhan kebutuhan hanya pada kebutuhan dasar manusia yaitu sandang, papan, dan pangan. Mereka
    menganggap Its enough…! Tidak pernah terlintas di pemikiran mereka bahwa anak – anak butuh didengarkan, anak berhak berpendapat, bahkan anak berhak mengambil keputusan. Terlalu banyak orangtua mengabaikan anak hanya karena kesibukan para orangtua, dengan alasan semua demi anak – anak sungguh sebuah ironi. Walaaah kok panjang sekali..ya saya juga aktif di KIPPAS, lni Komisi Independen Perlindungan Perempuan Dan Anak Surakarta.Yang terakhir baru saja seleksi kepengurusan yang baru sekarang sedang uji publik. demikian Mas Ndaru..saya tunggu kunjungannya.

  44. Terima kasih Mba’ Dyah..
    Cukup-cukup menarik komentarnya.. Ok, Insya Allah saya akan berkunjung secepatnya.

    Salam,
    OmpuNdaru

  45. Hafid Algristian Says:

    setujuu…!!!
    keren, ompu!

    mm… sedikit tambahan, hak hidup anak, sesuai medicolegal, telah ditentukan semenjak konsepsi, yakni semenjak proses pembuahan. jadi siapapun yang telah melakukan hubungan suami isteri, sudah dinyatakan wajib “bertanggungjawab secara hukum” (menurut bahasa mas nurrahman18) terhadap pemenuhan hak hidup si bakal anak.

    (masa konsepsi, dalam dunia medis, adalah pertemuan antara sel sperma dan sel telur. ada yang menegaskan, bahkan sejak penetrasi *maap* penis ke dalam vagina.)

    maap jika kurang berkenan dengan bahasanya, namun itulah yang dipahami di dunia medis.😛

    … .
    http://algristian.wordpress.com

  46. Tambahan informasi yang menarik.
    Terima kasih Mas Hafid, sudah sempat mampir dan berkomentar.
    Jejak yang tertinggal juga akan saya ikuti nanti.

    Salam,
    OmpuNdaru

  47. Sadar dan menjadi tanggungjawab kita semua untuk memberikan jaminan kepentingan terbaik bagi semua anak. Betapa indahnya sebuah masa depan apabila keyakinan Hak Anak ini bisa diwujudkan, semoga!!!

  48. Om Udin.. Terima kasih udah mampir dan berkomentar. Saya juga setuju banget dengan apa yang diimpikan sam Om Udin.. Semoga juga Om..

    Salam,
    OmpuNdaru

  49. Assalaamu’alaykum
    Terima kasih kunjungannya ke http://danisharun.wordpress.com, blog yang jauh lebih sederhana lagi daripada blog Ompu….
    Anak adalah amanah dan itu ingin saya tanamkan baik – baik dalam diri saya. Tapi ujiannya tak sedikit dan tak mudah dihadapi. Saya ingin dan akan terus belajar.
    Saya prihatin dan selalu sedih melihat anak – anak jalanan…Apa ya yang bisa saya lakukan untuk mereka…..

  50. Setuju.. Saya setuju dengan pendapat itu.. Caranya, mungkin dengan tidak membiasakan selalu memberi apa yang mereka minta ketika berada di jalanan, karena terkadang anak-anak jalanan tersebut juga selalu dimanfaatkan oleh orang dewasa. Intinya ketika kita tidak membiasakan selalu memberi langsung pada anak jalanan maka otomatis anak-anak jalanan tersebut akan menghilang karena sudah tidak ada lagi kemudahan bagi mereka. Lebih baik disalurkan ke panti-panti asuhan yang bisa lebih dan mempunyai cara untuk mendidik mereka. Terima kasih banyak.

    Salam,
    OmpuNdaru

  51. Sungguh sy prihatin dgn anak yg telah banyak kehilangan hak2nya. Banyak orang tua bekrja mengatasnamakan kepentingan anak tp anak duluan yg jadi korban. Nice post…!!🙂

  52. Mba’ Ririn, terima kasih atas komentarnya. Keprihatinan dan pendapat Mba’ Ririn, memang banyak sekali terjadi, entah itu di kota-kota besar bahkan di kota kecil sekalipun. Kesadaran untuk memahami dan memenuhi Hak Anak saja yang belum betul-betul terpakem di dalam kepala orang-orang tersebut.

  53. mendidik anak sangat perlu untuk hati-hati, jangan sampai salah dalam mendidik anak sehingga membuat anak menjadi orang yang pesimis, minder dan lain-lain.karena didikan ortu dapat membentuk kepribadian anak.

    —————————————————-
    Bagaimana cara mendidik anak agar sukses dan bahagia di anekapilihan.com

  54. Betul sekali, saya setuju dengan pendapat ini. Karena kita tidak ingin membentuk generasi dengan mental tempe dimana mereka akan berjuang di jaman yang sangat keras seperti sekarang ini.

    Salam,
    OmpuNdaru

  55. aku setuju banget dengan semua komentar
    sampai sekarang hak anak belum bisa di terapkan dengan baik di negara kita
    lalu sapa yang akan menjadi calon pemimpin masa depan kalau kita melanggar hak hak anak
    kemana dan pada siapa mereka mau jalan
    tolong dengar dan lakasanakan dalam hidup kalian

    tX ya……Hermin aku juga salah seorang remaja yang peduli hak hak anak

  56. Terima kasih Mas Hemin. Ompu setuju dengan Mas Hermin, tapi mengenai hak anak ini gak ada sama sekali kaitannya dengan sapa pemimpin baru ato sapa pemimpin sekarang. Sapa saja punya hak dan kewajiban untuk menegakkan Hak Anak. Tidak pandang statusnya sebagai apa. Ompu pikir itu semua tergantung dari kesadaran masing-masing. Memang hal itu masih dianggap sepele, tapi ada baiknya kesadaran tersebut kita mulai dari lingkaran yang paling kecil yaitu dari diri kita sendiri (memakai sistem obat nyamuk bakar yang terbakar terbalik).
    Ompu sangat salut dengan Mas Hermin, seorang remaja yang sudah mau peduli dengan hal ini. Semoga hal ini bisa berjalan sesuai dengan harapan kita.

    Regards,
    OmpuNdaru

  57. ceritanya caru…
    perlu ditingkatkan dan dipertahankan bila perlu angkat semua permasalahan dana mbojo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: