Bullying di Sekolah Kita


Oleh Zainal Asikin. (Bekerja pada LSM International yang peduli terhadap anak sejak 2001. Saat ini aktif sebagai fasilitator positive discipline untuk guru dan orangtua).   

BULLYING adalah suatu bentuk kekerasan anak (child abuse) yang dilakukan teman sebaya kepada seseorang (anak) yang lebih ‘rendah’ atau lebih lemah untuk mendapatkan keuntungan atau kepuasan tertentu. Biasanya bullying terjadi berulang kali. Bahkan ada yang dilakukan secara sistematis. Sementara child abuse menurut organisasi kesehatan dunia (World Health Organization), adalah seluruh bentuk perlakuan buruk, baik secara fisik, emosional dan/atau seksual, penelantaran atau perlakuan lalai maupun eksploitasi terhadap anak.

Bullying biasanya dilakukan oleh anak untuk menyakiti temannya dan umumnya terjadi berulang kali. Praktek ini bukan merupakan suatu yang kebetulan terjadi. Biasanya dilakukan oleh anak yang merasa lebih kuat, lebih berkuasa atau bahkan merasa lebih terhormat untuk menindas anak lain untuk mendapatkan kepuasan atau keuntungan tertentu.

Bullying dapat dikategorikan dalam empat kelompok, yakni bullying secara fisik, yakni menyakiti orang lain secara fisik, seperti memukul, menampar, menendang, mencubit, menjambak rambut, meludah, dan lain-lain. Bullying secara verbal, yakni menyakiti orang lain dengan kata-kata, seperti memanggil dengan nama yang bukan namanya yang bersifat menghina, mengolok, menghina, mempermalukan atau mengancam. Bullying sosial seperti mengucilkan seseorang dari kelompok, menyebarkan isu, rumor atau gosip tentang seseorang atau membuat seseorang kelihatan bodoh di depan orang lain. Terakhir adalah bullying elektronik, yakni menggunakan internet atau telepon genggam untuk mengancam atau menyakiti perasaan orang lain, menyebarkan isu tak sedap atau menyebarkan rahasia pribadi orang lain.   

Seorang teman saya dengan bangga menceritakan perilaku anak perempuannya yang baru duduk di taman kanak-kanak yang melakukan bullying kepada teman-temannya dengan jalan menguasai alat permainan saat jam istirahat. Seorang anak  SLTP dengan bangga bercerita pada orangtuanya bahwa dia sangat terkenal di sekolahnya karena ditakuti teman-temannya. “Beta yang geng di sekolah,”  kata anak itu dengan bangga.  

Akhir tahun 2008  lalu harian ini menurunkan berita tentang murid sebuah SLTP di kota Kupang yang memalak teman-temannya hingga ditangkap polisi. Tentu masih banyak lagi kisah tentang bullying di sekolah kita.

Umumnya para orangtua, guru dan masyarakat mengganggap fenomena bullying di sekolah adalah hal biasa dan baru meresponnya jika hal itu telah membuat korban terluka hingga membutuhkan bantuan medis dalam hal bullying fisik. sementara bullying sosial, verbal dan elektronik masih belum ditanggapi dengan baik. Hal ini diakibatkan karena kurangnya pemahaman akan dampak buruk dari bullying  terhadap perkembangan dan prestasi anak di sekolah dan tidak adanya atau belum dikembangkannya mekanisme anti bullying di sekolah kita. Selain itu anak-anak juga masih jarang diberikan pemahaman tentang bullying dan dampaknya.

Anak yang menjadi korban bullying akan menderita secara fisik, tertekan, tidak dapat berkonsentrasi dengan baik di sekolah atau bahkan menarik diri dari lingkungan sosialnya. Anak korban bullying juga akan mencari pelampiasan yang bersifat negatif seperti merokok, mengonsumsi alkohol atau bahkan narkoba. Karena stres yang berkepanjangan korban bullying bisa terganggu kesehatannya. Bahkan dalam situasi yang sangat ekstrim seorang korban bullying sosial bisa melakukan tindakan bunuh diri.

Pelaku bullying akan mengganggap bahwa penyelesaian masalah dengan cara-cara kekerasan atau mengintimidasi orang lain adalah cara yang harus ditempuh dalam memenuhi keinginannya. Hal ini akan mendorong sifat premanisme yang akan terbawa hingga dewasa. Sehingga tanpa sadar kita telah menjadikan sekolah kita  sebagai tempat latihan bagi para calon preman yang nantinya akan menjadi profesi mereka saat dewasa nanti.

Dari mana anak-anak kita belajar atau terinspirasi melakukan bullying? Anak-anak umumnya mengikuti perilaku orang dewasa di sekitarnya seperti orangtua dan guru. Cara mendidik anak yang cenderung menggunakan kekerasan di rumah dan di sekolah tanpa sadar mengajarkan anak-anak kita untuk melakukan hal yang sama kepada teman-temannya. Menghukum anak dengan cara-cara yang negatif akan mengajarkan anak untuk berkuasa terhadap anak lain serta  membenarkan tindakan kekerasan kepada anak lain yang lebih lemah. Sering karena terbatasnya pengetahuan dan pemahaman kita tentang bullying tanpa sadar kita mendorong anak-anak kita melakukan bullying di sekolah atau di lingkungan kita.

Lalu apa yang mesti kita lakukan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan bullying di sekolah kita? Pertama, di lingkungan sekolah harus dibangun kesadaran dan pemahaman tentang bullying dan dampaknya kepada semua stakeholder di sekolah, mulai dari murid, guru, kepala sekolah, pegawai sekolah hingga orangtua. Sosialisasi tentang program anti bullying perlu dilakukan dalam tahap ini sehingga semua stakeholder memahami dan pengerti apa itu bullying dan dampaknya.

Kemudian harus dibangun sistem atau mekanisme untuk mencegah dan menangani kasus bullying di sekolah. Dalam tahap ini perlu dikembangkan aturan sekolah atau kode etik sekolah yang mendukung lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua anak dan mengurangi terjadinya bullying serta sistem penanganan korban bullying di setiap sekolah. Sistem ini akan mengakomodir bagaimana seorang anak yang menjadi korban bullying bisa melaporkan kejadian yang dialaminya tanpa rasa takut atau malu, lalu penanganan bagi korban bullying, dll.

Tidak kalah pentingnya adalah menghentikan praktek-praktek kekerasan di sekolah dan di rumah yang mendukung terjadinya bullying seperti  pola pendidikan yang ramah anak dengan penerapan positive discipline di rumah dan di sekolah.

Langkah ini membutuhkan komitmen yang kuat dari guru dan orangtua untuk menghentikan praktek-praktek kekerasan dalam mendidik anak. Pelatihan tentang metode positif disiplin perlu dilakukan kepada guru dan orangtua dalam tahap ini.  

Terakhir adalah membangun kapasitas anak-anak kita dalam hal melindungi dirinya dari pelaku bullying dan tidak menjadi pelaku. Untuk itu anak-anak bisa diikutkan dalam pelatihan anti Bullying serta berpartisipasi aktif dalam kampanye anti bullying di sekolah. Dalam tahap ini metode dari anak untuk anak (child to child) dapat diterapkan dalam kampanye dan pelatihan.

Lalu bagaimana peran pemerintah? Sudah saatnya pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan memberikan perhatian terhadap isu bullying di sekolah serta berupaya membangun kapasitas aparaturnya dalam mengatasi isu ini. Langkah strategis yang perlu diambil adalah memasukkan isu ini ke dalam materi pelatihan guru serta mengembangkan program anti bullying di tiap sekolah. Dalam kasus tertentu bullying bisa bersentuhan dengan aspek hukum, maka melibatkan aparat penegak hukum dalam program anti bullying akan sangat efektif.

Sekolah  sebagai lembaga yang bertugas mencerdaskan bangsa sudah seharusnya menjadi tempat yang aman,  nyaman dan bermartabat bagi anak-anak kita sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan  demikian maka  kita telah mempersiapkan generasi mendatang yang unggul dan siap menjadi warga negara yang baik. 

19 Tanggapan to “Bullying di Sekolah Kita”

  1. ekkysabdina Says:

    Mas oMpun,makasi atas k0menNya.Duh seneng dipuji blognya apik.Pdhl tmen2q blg bl0gq kurang berisi,tp kan q uda eFfort bwt ngasi news.Bgnya sama ya,he

  2. Mba’ Ekky, sama-sama mba’, menurut saya semuanya tergantung dari apa yang kita lihat dan pahami..

    Salam,
    OmpuNdaru

  3. di sekolah gw sering terjadi bullying… tapi yang di-bullying malah bales bullying… nah, itu artinya apa?

  4. Maz Diazhandsome.. Itu artinya bahwa yang melakukan itu betul-betul pikirannya belum dewasa. Banyak fenomena yang terjadi di kota-kota besar. Pemalakan, tawuran dan sebagainya.. dan yang menjadi korban adalah yang tidak berdaya.. Disitulah kita perlu melakukan pendekatan yang sesuai dengan Agam, budaya dan kearifan lokal. Tidak hanya Guru di sekolah bahkan orangtua dan seluruh lapisan masyarakat juga harus proaktif untuk menanggulangi masalah ini.
    Sarannya kalau ada kejadian seperti itu di sekolah, segera laporkan ke Guru, Guru BP, Kepala Sekolah, Sekuriti yang ada di sekolah.

    Salam,
    OmpuNdaru

  5. Ompu..

    Putri sekalian mau cerita boleh yagh?

    Well.. Putri baru lulus dari universitas pendidikan, jadi sedikit banyak tau mengenai pendidikan.. Setelah melihat banyak fakta yang terjadi di lapangan dan didasarkan pada pengalaman pribadi, putri beranggapan bahwa bullying itu sendiri merupakan akibat dari didikan GURU..

    Beberapa waktu lalu, adik Putri yang duduk di kelas 4 SD membawa cerita. Dia diperintahkan oleh gurunya untuk memukul teman sekelas sebagai hukuman karena teman sekelas itu badung. Akhirnya adek sY dan temannya memukul beberapa anak di kelas. ATAS PERINTAH GURUNYA.

    Sekarang, kasus yang mirip terjadi lagi. Seorang anak di kelas berbuat hal yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan (mengupil). Seperti halnya anak SD, mungkin dia suka bercanda. Dan teman2nya pun tidak pernah keberatan karena tahu maksud candaannya dia. Tapi kemarin, ada anak yang iseng meneriakinya.
    “Buu.. A ngupiiil!”
    Reaksi si guru adalah: “Tampar aja Tampar aja!”
    Berbondong2 anak mendekati meja si A untuk menamparnya.

    Saya terbengong2 mendengar kelakuan guru ini. Tapi ternyata menurut Bapak, banyak guru yang melakukan hal serupa.

    Putri sih kembali ke statement jadul: anak bagaikan kertas yang putih.. Orangtua dan lingkunganlah yang mengasahnya, mewarnai kertas tersebut dengan kemauan mereka.. Nggak akan pernah ada anak yang dari lahirnya sudah membawa sifat nakal.. jadi harusnya, hukuman atas bullying itu tidak perlu dilakukan JIKA kita bisa mendidik anak tersebut supaya mau berubah..

    Sayangnya Ompu..
    Gimana mau mendidik..
    Kalau dari keluarga dan lingkungan (bahkan SEKOLAH), si anak belajar untuk menggunakan kekerasan.. ?

    Pelaku bullying sendiri sejatinya adalah KORBAN, Ompu.. Itu menurut Putri..

  6. Putri.. Itulah fenomena yang terjadi sekarang-sekarang ini.. Untuk mengatasinya, semua yangterkait denga kejadian tersebut harus proaktif, dan orangtua juga harus berani memprotes jika ada kejadian seperti itu. Dulu, memang ada semboyan yang benar-benar tidak masuk logika kita, yaitu “Di ujung rotan, ada emas” yang artinya, di ujung rotan ada ilmu, padahal tidak seperti itu, tidak selalu ilmu bisa kita dapatkan dengan kekerasan.
    Untuk instansi-instansi terkait, perlu juga melakukan penyegaran dan pembinaan pada staf-stafnya dalam hal mendidik dan sebagainya.
    Putri, mungkin guru yang melakukan hal seperti itu belum sadar bahwa anak-anak sudah ada Undang-undang yang melindungi mereka dari kekerasan, yaitu Undang-undang No. 23 tahun 2002.
    Ajakan saya ke Putri.. Mari kita berikan pengertian dan jangan hanya sebagai penonton. Kalau bukan kita yang memulai perubahan tersebut, siapa lagi?

    Salam,
    OmpuNdaru

  7. Tumbuh kembang anak sampai kepribadian anak, tidak lepas dari bentuk pola asuh anak yang dilakukan orang tua. Kesalahan dalam mendidik anak dapat membuat anak menjadi jiwa pemikiran yang kurang. jadi jangan sampai anda salah dalam mendidik anak.

    ———————————————————————————–
    Rahasia mendidik anak agar sukses dan bahagia di anekapilihan.com

  8. Saya setuju dengan pendapat itu. Semoga para orangtua sekarang mempunyai pikiran seperti komentar ini, sehingga ke depannya akan tercetak generasi penerus yang handal. Terima kasih.

    Salam,
    OmpuNdaru

  9. mendidik anak sangat perlu untuk hati-hati, jangan sampai salah dalam mendidik anak sehingga membuat anak menjadi orang yang pesimis, minder dan lain-lain.karena didikan ortu dapat membentuk kepribadian anak.

    —————————————————-
    Bagaimana cara mendidik anak agar sukses dan bahagia di anekapilihan.com

  10. Betul sekali, saya setuju dengan pendapat ini. Karena kita tidak ingin membentuk generasi dengan mental tempe dimana mereka akan berjuang di jaman yang sangat keras seperti sekarang ini.

    Salam,
    OmpuNdaru

  11. Begitulah potret sosial kehidupan masyarakat kita, Perlu upaya edukasi yang serius untuk memperbaikinya. Saya setuju pemerintah melihat ini sebagai masalah serius.
    Angka kekerasan ditingkat pelajar terus meningkat dan pokok permasalahannya cukup kompleks, mulai dari tingkat depresi sosial keluarga yang tinggi tidak ditopang kematangan emosional.
    Salah satu faktornya misalnya kemampuan kemunikasi dan bersosialisasi yang sangat minim sehingga begitu suatu masalah tidak menemukan penyelesaian, tindakan fisik adalah solusinya.
    Institusi sekolah perlu mulai memperhatikan aspek sikap seperti toleransi, empati, etika sebagai muatan substantif dalam pendidikan.

  12. Saya setuju sekali dengan pikirannya Pak Adhiwirawan.
    Tapi perubahan tersebut perlu waktu, karena masalah kekerasan Bullying ini sudah terlalu kuat menjadi kebiasaan yang bagi kebanyakan masyarakat dan bahkan pandidik itu sendiri dianggap hal yang biasa dan wajar. Dengan alasan “begitulah kebiasaan mendidik”. Padahal sebenarnya ada cara-cara yang lebih baik lagi untuk menghindari terjadinya kekerasan tersebut.
    Mudah-mudahan ke depannya, Indonesia bisa lebih menghargai lagi anak-anak dan angka kekerasan bisa dikurangi atau bahkan bisa dihilangkan. Saya heran, padahal di indonesia ini sudah berlaku Undang-undang Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002. Tapi Angka Kekerasan terhadap Anak tidak berkurang juga.

    Salam,
    OmpuNdaru

  13. om, aku ada rencana mau tulis skripsi soal bullying ni. Ada referensi yang bisa membantu ga? sebagai informasi aku kuliah di fakultas hukum.thank’s ya.Gbu

  14. Mas Bobby, terima kasih udah mampir di tempatnya Ompu.. untuk referensinya, nanti kita diskusi di japrinya Ompu di m.qadafi@yahoo.co.id, karena tentang bullying ini banyak juga referensi.

    Regards,
    OmpuNdaru

  15. anisa purwa Says:

    kebetulan saya lagi nulis skripsi mengenai bullying. kalau ada referensi lagi mau dunkz….thx

  16. bullying lagi rame ternyata

  17. kakak bagus banget ulasannya kebetulan lagi ada tugas tentang bullying jadi kebantu banget terima kasih dan salam kenal😀

  18. Mari, jangan pake kata bully lagi. bahasa indonesianya sudah ada: PELATOK, PENDEL, ATAU TINDES. Lihat ayam2 yang gede di kandang suka memelatoki atau memendel ayam2 kecil. Nah. MEM-BULLY = MEMELATOK, MEMENDEL, MENINDES. di bully = dipelatok, dipendel, ditindes. BULLYING: PERPELATOKAN, PEMENDELAN, PENINDESAN.AYO biasakan PAKE BAHASA INDONESIA MUMPUNG BELUM TERLANJUR. terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: