Lahirnya Pahlawan Kemanusiaan


Oleh: Yahya Ado *)

Dalam buku INDONESIA UNGGUL (Indonesia on the move), Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menuliskan sebuah topik yang cukup menarik ‘Terciptanya Sosok Pahlawan’. Dalam tulisan tersebut SBY mendeskripsikan setidaknya ada dua sosok manusia yang disebut pahlawan. Yang pertama adalah pahlawan yang bersinar cemerlang menghadapi kesulitan, yang menunjukan keberhasilan luar biasa dalam situasi yang sulit. Yang kedua adalah pahlawan yang hidup diantara kita yang melakukan pelayanan mereka tanpa gembar gembor, tidak diperhatikan oleh kebanyakan dari kita, namun menghasilkan perubahan bagi kehidupan orang lain.

Secara sederhana seorang disebut pahlawan adalah orang yang tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, yang mampu menunjukan tindakan yang luar biasa. Sosok tersebut tidak harus menunjukan hasil kerja yang mereka lakukan namun muncul dari keinginan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Jika sekalipun mereka gagal tekad mereka tetap hidup dan menjadi teladan bagi orang lain. Kemuliaan seorang pahlawan tidak terletak pada prestasi mereka melainkan pada pengorbangan mereka.

Butet Manurung, seorang tokoh perempuan muda yang telah mendapat penghargaan sebagai pahlawan versi majalah TIME. Butet dianggap telah sukses mewujudkan cita-cita dengan mendirikan Sekolah Rimba (Sokola Rimba, sebutan masyarakat Rimba) di tengah masyarakat Bukit Dua Belas Jambi, yang menolak untuk belajar membaca dan menulis. Namun kepiawaian Butet hingga ia mampu menyatu dengan masyarakat Rimba seolah menjadi bagian dari kehidupan orang Rimba tanpa harus menghilangkan identitasinya sebagai seorang bersuku Batak. Alhasil kerja beliau mampu mendampingi Orang Rimba menjadi terdidik tanpa kehilangan identitas dan budaya mereka sebagai Orang Rimba.

Tak beda jauh dari Butet, di negeri ini ribuan pekerja sosial yang menyebar ke seluruh pelosok Indonesia yang tergolong sebagai daerah miskin. Mereka tak pernah pamrih memperjuangkan visi kemanusian yang mulia. Mereka adalah sosok pahlawan yang sedang berjuang memberantas buta huruf dan berupaya meningkatkan kualitas pendidikan. Mereka sedang manangani korban gizi buruk, memberantas kemiskinan, menolong korban bencana, menciptakan lingkungan hidup yang ramah serta masih banyak agenda pekerjaan sosial lainnya yang tercatat rapi dalam perencanaan strategis dari masing-masing mereka.

Ada satu kata kunci yang mampu mengikat komitmen dan idealisme para pekerja sosial adalah rasa cinta yang mendalam atas pekerjaan mereka. Saya dan tentu kita semua yakin bahwa jika rasa cinta itu tidak ada dalam jiwa Butet dan ribuan pekerja sosial lainnya maka adalah mustahil jika mereka bisa bertahan untuk melakukan proses perubahan hidup bagi banyak orang yang membutuhkan. Namun justru rasa cinta itulah yang telah merekat hati mereka bersama masyarakat dan anak-anak kurang beruntung hingga mereka mampu mentransformasikan perubahan hidup yang lebih berarti bagi masyarakat dan Anak-anak yang mereka dampingi.

Kembali ke defenisi tadi, tentunya deskripsi itu sangat adil untuk berlalu pada kita semua yang sedang bergulat dalam memperjuangkan visi kemanusiaan. Kita tentu bangga dinobatkan sebagai pahlawan kemanusiaan yang low profile. Tak pernah mengembar-gembor hasil yang telah kita capai, namun dalam diam kita telah melakukan banyak perubahan yang berarti dalam komunitas yang kita dampingi. Memang saat ini kita belum dikenal oleh kebanyakan orang namun kita sudah pantas untuk dikenang setidaknya oleh lebih dari 53.000 anak Indonesia yang menghuni 285 desa dalam dampingan kita dan bahkan lebih dari itu.

Indonesia pantas berbangga dengan lahirnya pahlawan kemanusian baru. Butet telah menunjukan langkah nyata buat kita semua. Kita tentu tidak harus sama seperti gadis muda itu, tapi kita juga pantas untuk dikenal, dapatlah lagi untuk dikenang. Sekali lagi hanya kekuatan cinta yang mampu menobatkan kita sebagai pahlawan kemanusiaan. Selamat berjuang dan tetap semangat…

*) Building Releationship Coordinator Country Office Plan Indonesia.

9 Tanggapan to “Lahirnya Pahlawan Kemanusiaan”

  1. Thank’s for Twitter

  2. Makasih banyak mas Qadafi sudah berniat baik memposting tulisan ini. Memang pesannya ranah internal, tapi semoga bisa diterima oleh teman2 komunitas Bima.

    Oke, salam kenal buat semuanya..Best and sukses selalu…

  3. Hallo Broe.. Welcome to my blog.. Btw, thank’s for visit and comment. Hehehe.. Betul-betul surprise.. Penulisnya sendiri berkunjung ke sini..

    Best Regards,
    OmpuNdaru

  4. jiwa sosialis memang wajib di pupuk, Nabi kita pun adalah orang paling sosialis dan sangat perhatian. Doakan aku ya agar menjadi orang yang berjiwa sosialis…

  5. Insya Allah Mas Fachri..

  6. way to go Butet🙂

  7. Ullie.. Apa kabar? Terima kasih yah udah mampir ke tempat sederhana ini..

    Salam,
    OmpuNdaru

  8. makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: