“Jagung Titi” Desa Waienga Kabupaten Lembata. Upaya Melestarikan Pangan Lokal


Oleh Wong Kito *)

Dari dalam pondok berukuran sekitar 2 x 3 meter  inilah Ibu Sarifah (48 tahun) memulai aktivitas hariannya. Pondok kecil ini berfungsi sebagai tempat memasak sehari-hari (dapur), juga tempat untuk membuat “Jagung Titi“. Hampir setiap hari ia meniti jagung (menumbuk butiran jagung menjadi pipih seperti kripik). Seperti umumnya masyarakat di Desa Waienga Kabupaten Lembata, Ibu Sarifah menggunakan peralatan yang sangat sederhana antara lain : periuk tanah kecil untuk menyangrai butiran jagung, batu ceper sebagai landasan untuk meniti dan batu berbentuk lonjong yang berfungsi sebagai penumbuk (titi).

jagung-titi11“Beta membuat jagung titi sejak kecil, keterampilan dan kemahiran membuat jagung titi didapat secara turun temurun”. Kata Ibu Sarifah, ketika disambangi di pondok kecil di belakang rumahnya.

Untuk membuat jagung titi biasanya dilakukan pada subuh sampai menjelang pagi. Kegiatan ini dilakukan Ibu Sarifah sebelum ke kebun. Proses pembuatan jagung titi dimulai dengan : Butiran-butiran jagung pipilan disangrai di dalam periuk tanah. Cukup menggunakan kayu bakar yang sedikit saja, agar jagung tidak cepat gosong. Setelah berwarna agak kekuningan atau sekitar 3 menit disangrai. Bila periuk tanah tadi terdengar berbunyi “kletek-kletek-kletek”, itu tandanya jagung sudah siap untuk dititi. 3 sampai 4 butir jagung diambil langsung dari periuk dengan menggunakan tangan tanpa alas, lalu diletakkan di atas batu landasan. Butiran jagung tadi ditumbuk (dititi) menggunakan batu lonjong seberat lebih kurang 2 kg. Diperlukan ketepatan waktu antara meletakkan butiran jagung dan menarik telapak tangan agar tidak terpukul. Dengan sekali titi saja, sudah jadilah “Jagung Titi”.

Karolus Kewaman, Ketua Komite Ketahanan Pangan dan Gizi Desa Waienga menambahkan, “Bahan jagung titi diambil dari hasil panen kami sendiri, biasanya yang paling enak berasal dari Jagung Pulut, sedangkan agar proses menitinya lebih mudah, digunakan jagung yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua”.

jagung-titi31Lebih nikmat menyantap jagung titi dibarengi dengan “Lawar”, sejenis pangan yang berbahan utama ikan-ikan kecil (sejenis Ikan Teri segar) yang direndam beberapa menit di dalam cuka yang telah ditambahkan dengan cabe dan bawang. Dengan sendirinya ikan-ikan kecil ini akan melunak dan menjadi setengah matang. Mirip dengan salah satu jenis makanan ala “Jepang”.

Tapi bila ada yang mau mencoba menyantap “Jagung Titi” ini dengan Susu, pasti akan terasa lebih enak lagi.

jagung-titi21Jagung Titi ini tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri, tetapi juga untuk dijual sebagai penambah penghasilan keluarga. Tidak sulit untuk memasarkan Jagung Titi ini, setidaknya itu diungkapkan oleh Bapak Barnabas (Kades Waienga) : “Masyarakat desa kami umumnya melakukan kebiasaan membuat jagung titi ini. Sebagian untuk konsumsi dan sebagian lagi untuk dijual. Tiga mangkuk plastik dihargai Rp. 10.000,-. Untuk keperluan konsumsi, masyarakat meniti jagung bila dianggap persediaan sudah habis, selain itu masyarakat Desa Waienga juga akan meniti bilamana ada pesanan”.

Pola pemasaran yang dilakukan masih sangat sederhana. Biasanya jagung titi dijual kepada pemesan di sekitar desa atau di pasar lokal (setempat). Umumnya masih dalam jumlah yang terbatas.

Setidaknya masih ada upaya masyarakat Desa Waienga untuk melestarikan pangan lokal. Karena mereka cukup menyadari bahwa pangan utama mereka sebenarnya bukanlah “Beras”. Suatu kearifan lokal yang membutuhkan dukungan pemangku kepentingan.

Kita patut memberikan apresiasi terhadap kearifan lokal ini ditengah-tengah modernisasi gencarnya promosi makanan siap saji dari luar.

*) Bekerja pada salah satu INGO (International Non Government Organitation) yang bergerak dibidang Pemberdayaan Masyarakat.

41 Tanggapan to ““Jagung Titi” Desa Waienga Kabupaten Lembata. Upaya Melestarikan Pangan Lokal”

  1. Thank’s to tutoring.demo-research.com

  2. Thank’s to health.uwant2know.info

  3. Halo Bang Ompu apa khabar ? Saya cukup prihatin yang dikerjakan Ibu dari desa Waienga Kab. Lembata, begitu tekun dengan hasil yang pas-pasan, dengan kesabaran dan ketekunan untuk menjadikan jagung Titi menjadi makanan yang lezat. Itulah beraneka ragamnya kehidupan, ada yang mencarinya dengan susah payah, ada juga dengan cara yang mudah tapi menghasilkan yang banyak. Apapun…ketekunan menghasilkan kekuatan. Terima kasih untuk semuanya.

    Regards, agnes sekar

  4. Hallo Ibu Agnes.. Kabar Ompu Baik saja terima kasih mudah-mudahan begitu juga Ibu Agnes. Begitulah keadaan di Lembata ibu.. Di sebagian daerah, masyarakatnya sudah mengalami kemajuan yang begitu berarti, seperti yang ibu katakan, bisa menghasilkan banyak. Tetapi di daerah lain sebaliknya. Tapi itulah dinamika kehidupan. Kemajuan Indonesia tidak sama rata. Mungkin lebih ke timur lagi, lebih tidak maju. Tapi itulah masyarakat, menghasilkan sesuatu yang bisa mereka hasilkan sesuai dengan keadaan dan kemampuan lokalnya. Mudah-mudahan semuanya akan mencapai kemajuan seperti yang dicita-citakan negara kita tercinta ini.

    Salam,
    OmpuNdaru

  5. speecless…
    wanita-wanita perkasa……

    al jannatu aqdamu ala ummahat ^_^

  6. Yap.. terima kasih..

  7. tukeran link yuk

  8. halo om, jagungnya enak tuh..
    lempar satu jua ke ambon…🙂

  9. Halo juga..
    Hehehe.. Kalo gak salah, di Ambon juga banyak jagungnya.. Di “Titi” aja..

    Salam,
    OmpuNdaru

  10. JEFRY TUKAN Says:

    Ompu…memang benar kita harus melestarikan kekhasan kita, selain jagung titi, ada satu lagi yang mungkin perlu kita publikasikan..ompu ingat to…kacang hutan…saya yakin dalam kacang hutan ada suatu zat yang mungkin perannya sangat penting untuk pertumbuhan….orang-orang tua dulu hanya bisa makan kacang hutan tapi lebih pintar dari anak-anak sekarang…na, itu om yang mungkin kita kembangkan lagi……

  11. Hallo Om Jefry,
    Selamat datang di blog sederhana ini. Thank’s atas kunjungan dan komentarnya di blog ini. Ompu setuju banget dengan pendapatnya, ntar deh Ompu cari bahannya dulu baru di postingin lagi..

    Salam,
    OmpuNdaru

  12. JEFRY TUKAN Says:

    omong jagung titi…..jadi ingin mau makan apalagi tamba blawar e…………

  13. Di coba bikin sendiri aja om..

  14. om… mr. handsome balik lagi nih. gimana kabarnya? baik” saja? kangen gak sama saya? hehehehehehe….

  15. Mr. Handsome,
    Welcome back, Kangen? Baiklah, kangen daripada bikin minder.. Ada postingan baru gak di blognya?

  16. makasih makasih… makasih dipijetin (lho?)

    ya, kangen gak? kan udah sebulan kita gak ketemu gituu… (emang gak ketemu sih)
    ada tuh… liat aja om.

    oh iya, gw ganti tema😀

  17. Ternyata anak ganteng sudah tambah dewasa sekarang, hmmm.. pasti gara-gara abis ngikutin UN. Sopan lagi.

  18. di jogja juga banyak produk lokal yang lum terberdayakan dengan baik Ompu..misalnya sepatu kulit di Manding, dll….kapan pemerintah bisa sadar akan hal itu? sepertinya sektor swasta dan wiraswasta yang hanya bisa menangani itu

  19. Setuju Nur.. Ompu setuju. Gak ngerti juga seh sama sebagian masyarakat kita, senang banget sama barang import, padahal produk lokal juga banyak. Lucunya lagi, ada barang dari Indonesia di jual di luar negeri trus dibeli lagi sama orang Indonesia.. Hehehe.. Jadi ke ingat katanya si Nagabonar : “Apa kata dunia..?”.

  20. sebenarnya.. saya masih lebih suka lemot food dibandingkan fast food.. asli, enaknya beda!

  21. Aah.. Lemot Food, apalagi tuh? Ompu suka yang produk lokal (promosi), soalnya ditempatnya Ompu sekarang kebenaran gak ada Fast Food. Tapi, itu Ompu lihat, komentarnya masih bernada sebenarnya.. berarti jarang donk suka Lemot Food-nya.. Hehehe..
    Btw.. Thank’s udah mampir dan berkomentar di blognya Ompu yang sederhana ini.

    Salam,
    OmpuNdaru

  22. hah? iya tah? waahh… kepengaruh sama temen” nih! gawatt…

    mereka mempermainkanku!! hiyaa~ (gaya ninja terbang)

  23. Hhhuuh.. baru di puji sedikit aja udah tinggi melambungnya.. Awas lho, ntar jatuhnya sakit saking tingginya.. hehehe…
    Taapii.. kayaknya iya neh.. Mas Diaz tambah dewasa.. Gara-gara udah mo masuk SMA trus Puber pertama lagi, hahaha…

  24. hmm.. makanan indonesia itu banyak juga ya.
    tp knp sbgian org suka makanan luar negeri. pdhal blum smua msakan dalam negeri mreka coba,. heu

  25. Betul Mas Agung, Ompu sependapat dengan Mas Agung. Apalagi di pelosok-pelosok negeri kita yang tercinta ini, ternyata masih banyak masakan-masakan khas yang tidak kalah dengan makanan luar negeri. Yah.. menang trend saja makanan luar negeri itu..

  26. Terima kasih .. baru tahu…..
    kayaknya perlu adanya promosi secara kontinyu untuk mengenalkan produk lokal makanan/jajan daerah sehingga kita tahu kekayaan negeri ini

  27. Mba’ Husna Azizah..
    Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, sepertinya harus begitu Mba’ untuk memperkenalkan pangan lokal kita. Mudah-mudahan Mba’ mau juga untuk ikut membantu mempromosikannya.

    Salam,
    OmpuNdaru

  28. hi,,,,ompu…salam kenal…be bisa minta tlg….
    beta orang Belu NTT…
    beta ada keluarga tinggal di desa. WUAKERONG…..
    cuma beta son tau nama kecamatannya….
    kalo bisa tolong diberi nama kecamatan2 lembata di situs http://www.wikimapa.com
    sebelumnya be minta maaf krn telah merepotin…Ompu
    martinesky@yahoo.com

  29. Hi juga Martin..
    Ompu juga orang baru di Lembata, baru pindah dari Soe, baru juga 2 bulan 8 hari. Yang Ompu tau kecamatan di Lembata hanya 4 saja, kebetulan itu adalah kecamatan dampingan lembaga tempat Ompu bekerja. 4 kecamatan itu adalah : Kecamatan Lebatukan, Ile Ape, Omesuri dan Buyasuri. Untuk Desa Wuakerong nanti Ompu tanya teman-teman Ompu dulu.

    Salam,
    OmpuNdaru

  30. Kiki Retnowati Pratiwi Says:

    Halo bang Ompu… Saya kiki dari Trans7 Jakarta, reporter Program Laptop si Unyil dan Buku Harian si Unyil yang ditayangkan setiap hari pukul 13.00 di Trans7… Saya sangat tertarik dengan artikel yang ditulis oleh bang Ompu. Saya tertarik untuk meliput mengenai pembuatan jagung titi… ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan :

    a. Dimana tepatnya lokasi desa Waienga Kabupaten Lembata?
    b. Adakah permainan anak tradisional lain di kabupaten lembata?
    c. Bagaimana saya mengontak bang Ompu? bila bang Ompu berkenan, bisa memberikan nomor kontak ke email saya, kiki.pratiwi@yahoo.com.

    Terima kasih…

  31. Hallo juga Mba’ Kiki,

    Waduh surprise sekali dengan niatnya Mba’ Kiki, saya sampaikan terima kasih sebelumnya. Sebelumnya saya perkenalkan diri dulu, Nama sebenarnya saya adalah M. Qadafi, boleh panggil Qadafi aja, saya bekerja di INGO, kebetulan daerah tersebut adalah daerah intervensi kegiatan saya. Mengenai 3 pertanyaannya Mba’ Kiki, untuk sementara saya jawab yang nomor dua dan tiga dulu yaitu, nomor dua; permainan anak-anak lumayan banyak disini sesuai dengan kearifan lokal yang mereka miliki, nomor tiga Mba’ Kiki bisa kontak saya di 081339074621 atau di nomor kantor saya (0383) 41557. Adapun pertanyaan pertama, saya perlu persetujuan dari pimpinan saya dulu, baru bisa saya sampaikan ke Mba’, mohon maaf sebelumnya, karena ada beberapa policy yang harus kami taati.
    Demikian informasi dari saya, mohon maaf jika tidak berkenan, jika saya sudah berdiskusi dengan pimpinan saya, secepatnya akan saya informasikan ke Mba’ Kiki.

    Best Regards,
    OmpuNdaru/M. Qadafi

  32. salam kenal bang. WAh, senang sekali bisa baca informasi tentang kampung saya. he2… jadi ingin makan jagung titi🙂

  33. Salam kenal juga San..
    Terima kasih banyak udah mampir dan berkomentar di Blog sederhana ini.. Oh ya..? Kampungnya..? Kebetulan saya juga sedang di Lembata (kerja). Kampung anda memang indah, juga banyak makanan khasnya..

    Salam,
    OmpuNdaru

  34. jagung titi makanan khas bukan hanya di weienga tapi seluruh wilayah kepulauan solor termsuk lembata. di lembata makanan khas ini tersebar semua tempat termasuk di kedang,ileape dll.maka jagung titi ini sebenarnya harus segera dipopulerkan oleh semua warga kepulauan solor umumnya dan warga lembata khususnya di semua tempat di mana saja dia berada,maka orang akan datang mencari makanan ini dari berbagai penjuru dunia.inilah mendatangkan devisa bagi masyarakat. oke.trims.

  35. Betuk sekali.. Masyarakat sebenarnya punya makanan khas untuk ketahanan pangannya, tapi karena pengaruh makanan cepat saji dan sebagainya sehingga budaya tersebut bergeser. Padahal juga sebenarnya jagung adalah makanan pokok bagi masyarakat di wilayah NTT. Mari kita sama-sama bahu membahu untuk mempopulerkan makanan tersebut. Tidak hanya Jagung Titi.

    Salam,
    OmpuNdaru

  36. tinkatkan penitian jagungnya dan jangan perna malasnya karena kita juga mau merasakan

  37. Qu jdi ingat ama kampung halaman qu”jdie ingat ama temen”orang tua dan adik qu

  38. i have got a lot of useful information and fresh knowledge in your website..http://www.boliche.com.br/email.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: