Archive for the Kebudayaan Category

” LADANG AMAL BAGI YANG MENYADARI: KOIN UNTUK MASJID BABURRAHMAN DUSUN NANGA NI’U DESA KARAMPI “

Posted in Destination Alternative, History, Kebudayaan, Lepas, Living, Pendidikan, Uncategorized with tags , , , , , on 16 Oktober 2014 by ompundaru

Di Tulis oleh Rangga Babuju

Komunitas BABUJU Bersama Mas Ady Supriadin dan Mas Yudha Hendrawan, Kembali mengetuk Hati para Dermawan, Saudara Sesama Muslim, untuk bahu membahu mengais ‘Ladang Amal’ guna RENOVASI / REHAB MASJID BABURRAHMAN Dusun Nanga Ni’u Desa Karampi, Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima…

=============
Masjid BABUGambar 1RRAHMAN Dusun Nanga Ni’u, Desa Karampi Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima. Didirikan pada tahun 1967 melalui swadaya masyarakat dan didirikan selama dua tahun. Masjid ini merupakan satu-satunya Masjid di dusun tersebut. Sejak tahun 1967 hingga saat ini, belum pernah sekalipun mendapat bantuan Rehab, Renovasi atau sejenisnya dari Pemerintah Daerah.

Tiang masjid sudah keropos, atap demikian pula, juga dinding-dindingnya, Tetapi warga Dusun Nanga Ni’u sekitar 300 KK tetap menggunakan Masjid ini untuk Sholat Jumat. Tidak ada Pengeras Suara, lantainya pun langsung tanah. Di Dusun ini, Listrik adalah teknologi langka, disaat perkotaan dan pusat Kabupaten BGambar 3ima sedang bersolek dengan seabrek modernitas lainnya. Disaat Warga Kabupaten Bima lainnya mengeluh hanya karena panas terik matahari 38 derajat, disaat warga Bima lainnya mengeluh hanya karena listrik padam 1 jam.

Untuk menuju Dusun Nanga Ni’u, kita harus menyebrang dari Dermaga Waworada menuju Karampi menggunakan Speedboat sekitar 30 – 40 menit atau menggunakan angkutan transportasi massal yang dikenal dengan Monto (Motor Boat) sekitar 2 – 3 Jam, untuk kesana kita harus merogok kocek sekitar Rp. 10 – 20 ribu per penumpang.

Warga disana juga ingin seperti kita disini yang memakan nasi Gambar 2hingga membuang-buangnya, warga disana ingin seperti kita disini yang menonton TV hingga tertidur pulas, mereka juga ingin seperti kita mengetahui dunia di luar sana seperti apa.

MEREKA HIDUP TANPA PERHATIAN DISAAT KITA MENGELUH KURANG PERHATIAN DITENGAH KEFOYAAN YANG KITA MILIKI….

MEREKA HIDUP TANPA ADA YANG PEDULI, APA ADANYA, DISAAT KITA BER-GLAMOUR DENGAN KEMEWAHAN DUNIA MELUPAKAN KESENGSARAAN SAUDARA DAN TAK MAU TAHU DENGAN PENDERITAAN ORANG LAIN….!!

DOA MEREKA YANG TERANIYAYAH DAN TERDZHOLIMI DI SEBERANG SANA BEGITU AMPUH UNTUK KITA DISINI YANG TERTAWA MENYAMBUT PENDERITAAN KITA SENDIRI HANYA KARENA KITA KURANG PEDULI DENGAN MEREKA…..!!! Itu Janji Tuhan bila Mereka & Tuhan Murka…..!!
================

Untuk Bantuan Peduli Masjid Baburrahman Dusun Nanga Ni’u, bisa menghubungi Relawan Kemanusiaan BABUJU (Fais Rakateza Babuju : 082340494790) atau mas Ady dan Mas Yudha yang disebutkan Diatas. Terima kasih.

Iklan

Orang Bima Merusak Nama Orang…?

Posted in Kebudayaan, Lepas with tags , , , , on 22 Januari 2013 by ompundaru

Itu kata salah seorang kenalan saya yang kebetulan pernah tinggal di Bima, dia pertanyakan kenapa orang Bima merubah nama orang (nama panggilan untuk orang yang lebih tua) misalnya :

Haris menjadi Heros
Abidin menjadi Bedo
Buyung menjadi ….??? (orang Bima jadi bingung dengan nama ini..)
Hersan menjadi Sao ato Se’o
Nasipinu menjadi Neo ato Penu ???
Mila menjadi Male
Muhtar menjadi Teo
Pandu menjadi Deo
Roni menjadi Neo
Sabaruddin menjadi Sebo
Umar menjadi Emo
Wahyudin menjadi Deo
Zainuddin menjadi Deo ato Zen ?
Bram Menjadi Rao… (ahh jelek..)

Saya tidak bisa menjawab dengan baik, saya hanya bilang “memang begitu cara orang Bima menghormati yang lebih tua”.
Kenapa ya…?

Upacara Daur Hidup yang Memikat (Bagian 1)

Posted in History, Kebudayaan, Lepas, Living with tags , , , , , , , , , , , , on 3 Agustus 2010 by ompundaru

Dalam tradisi Bima, upacara memegang peranan menentukan. Upacara sudah mentradisi sejak Bima kuno terutama mewarisi tradisi Hindu di masa lampau. Ketika Islam menjadi agama Kerajaan Bima, upacara menjadi alat dakwah. Sebut saja Upacara U’a Pua, yang mempunyai nilai syiar yang luar biasa.

Dalam Masyarakat Donggo dulu, upacara umumnya bernilai sakral. Misalnya upacara persembahan kepada dewa. Mereka mengorbankan binatang seperti kerbau. Namun upacara animis tersebut sudah ditinggalkan seiring dengan kian menguatnya pengaruh Islam dalam kehidupan mereka.

Dalam tulisan ini, akan dikemukakan secara singkat beberapa upacara seperti pernikahan dan khitanan, antara lain dikutip dan diadaptasi dari Buku “Dou (Manusia) Dompu”, edisi perdana 2001. Baca lebih lanjut

Pack up a pillow and blanket, go see the world. You will never regret it (The Name Sake Movie)

Posted in Kebudayaan, Lepas, Living with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , on 12 Oktober 2009 by ompundaru

IMG_0085Lamalera, yang terletak di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata merupakan sebuah desa tepi pantai yang sejak dulu terkenal akan tradisi penangkapan ikan paus secara tradisional. Masa penangkapan ikan paus sendiri dimulai dengan proses ritual dan misa pembukaan. Baca lebih lanjut

Persahabatan (Bagai Kepompong…)

Posted in Kebudayaan, Lepas, Living with tags , , , , , , , , , on 13 Mei 2009 by ompundaru

Orang bilang (lagi trend), persahabatan bagai kepompong.. suatu perumpamaan yang sangat madu untuk diucapkan dan didengar..

Kadang tanpa sadar bersenandung “Persahabatan bagai kepompong”.. ahh.. sekali lagi.. madu.. Dari anak-anak, remaja, dewasa sampai pada tahap orang tua, mulai dari orang kebanyakan sampai dengan “orang” spesial, tanpa sadar pernah dan punya sahabat yang begitu dekat untuk  berbagi rasa, canda, cekikikan, gosip, omelan, suka, duka, harta, hutang, bahkan ada juga sampai pada makian.. bahkan.. berbagi pacar? suami? istri? (No way, itu mungkin sahabat yang sudah sakit). Baca lebih lanjut

Pulau Ular

Posted in Destination Alternative, History, Kebudayaan, Lepas, Living with tags , , , , , , , , , , , , , , on 5 Mei 2009 by ompundaru

pulau-ular11Mendengar nama Ular, binatang yang satu ini, anda jangan dulu merasa takut atau trauma. Yakinlah bahwa ribuan ular yang ada di Pulau Ular ini tidaklah seseram yang anda bayangkan. Ular-ular di pulau ini sangat ramah dan bersahabat dengan manusia. Baca lebih lanjut

“Oha Witi” (Nasi Jewawut).

Posted in Health, Kebudayaan, Lepas, Living with tags , , , , , , , , , , , , , , on 5 Mei 2009 by ompundaru

oha-witiOha Witi atau Nasi Jewawut merupakan hasil Cipta Menu dari Tim Penggerak PKK Kabupaten Bima yang telah berhasil meraih Juara II Nasional pada Lomba Cipta Menu Tingkat Nasional.

Cara membuat Oha Witi (Nasi Jewawut) :

Bahan-bahan yang digunakan : 100 gr Beras, 200 gr Witi (Jewawut), 25 gr Daun Sandanawa.

Cara Pembuatan : Beras dan Witi direndam selama lebih kurang 1 jam, ditiriskan lalu diaron dan dikukus sampai masak. Nasi Witi dibungkus dengan Daun Sandanawa lalu dikukus kembali. Besarnya Nasi Witi disesuaikan dengan kebutuhan dan selera.

Selamat mencoba.